Ngut's Inside

Connected Your Mind and Heart

Masa Aku Disuruh Menikah….


Saat ini usia saya sudah menginjak lebih dari 25 tahun, sebagai orang yang hidup di lingkungan budaya Jawa saya telah dikondisikan sedemikian rupa untuk berpikir tentang nikah, menikah. Nikah telah menjadi sesuatu yang wajib bagi masyarakat kita, meski menurut sumbernya hanya dikategorikan dalam sunnah. Artinya, seseorang yang tidak menikah akan melanggar hukum budaya, setidaknya ia tidak akan disebut kecuali dengan tanda kutip. Hanya bedanya, atmosfir pernikahan di kota terlihat lebih cair dari pada di desa pasalnya masyarakat kota cenderung lebih individualistik dari pada mesyarakat desa. Masyarakat kota merasa tidak begitu peduli bila ada tetangganya yang memilih selibat atau bahkan berpoligami, tapi bagi masyarakat desa, kedua hal itu merupakan “aib” yang akan menjadi gosip sepanjang jalan.

Padahal konon, di Kerajaan Belanda sana terdapat banyak manusia yang hidup seorang diri menyewa sebidang  apartemen mewah. Dan di sebelahnya terdapat masyarakat Jerman yang menurut catatan memiliki angka kelahiran 0%, mereka memang manusia-manusia yang tidak sudi direpotkan oleh kehadiran seorang anak, bagi mereka anak-anak adalah beban hidup, pembelenggu kebebasan. Oleh karena itu sangat mungkin dipahami bila konon di Brunei Darussalam orang menikah akan diberi santunan oleh pemerintah. Sesuatu yang sungguh kontras dengan budaya kita, beberapa kawan saya menikah dengan modal nekat dan fenomena seperti itu telah menjadi sesuatu yang lumrah, wajar dan terestui oleh sang raja adat.

Saya tidak sedang berbicara tentang takdir tapi hidup memiliki tata aturan dan pola pikir. Sayangnya, tak ada satu hukum pun yang sanggup membatasi pikiran manusia, setiap manusia berhak berpikir apapun mengenai hidupnya. Namun lagi-lagi, pola pikir setiap orang tidak bisa meninggalkan sosio-kulturnya. Seseorang yang konon disebut paling “memberontak” sekalipun, ia lahir dari sebuah sosio-kultur yang membelenggunya.

Berbicara tentang pernikahan, kita sedang membicarakan budaya. Pernikahan bagi masyarakat kita tidak cukup bila hanya dipahami sebagai pertemuan antara seorang lelaki dan perempuan, nikah itu menggabungkan dua budaya yang awalnya berbeda dan mungkin bertentangan. Tapi secara umum, pernikahan tidak mengubah apapun dari kelangsungan sosio-kultur kita. Pernikahan memang tidak lebih dari sekedar tadisi dan tradisi tidak lebih dari sekedar proses yang terus berulang, tanpa akhir. Seseorang menjalani tradisi tidak dengan kesadaran penuh melainkan hanyalah kamuflase dan ia memang tidak memiliki pilihan lain selain dikondisikan untuk dapat memahaminya.

Persoalan besar budaya pernikahan kita adalah persoalan pola pikir: pernikahan merupakan satu-satunya cara yang sah untuk melestarikan keturunan. Sayangnya apakah kita masih pantas melestarikan keturunan ketika sudah tak tahu pasti mengenai nasib hidup kita? Kita memang tidak terbiasa bertanya-tanya tentang apa itu keturunan sehingga tidak pernah merisaukan ketika seorang anak yang telah dilahirkan telah menimbulkan masalah baru dalam sosio-kultur. Konon masyarakat kita baru bisa berfikir ketika sudah berhadapan langsung dengan masalah dan tak bisa mengelak. “Karena masalah, hidup menjadi lebih hidup,” tapi respon mereka terhadap masalah tidak pernah keluar dari cara-cara lama. Bagi yang bertuhan, mereka akan kembali mendekat kepada sesembahannya itu dan berdo’a supaya masalahnya selesai dan mereka yang masih percaya dengan dukun-dukun mistik pun akan melakukan hal serupa. Sosio-kultur memang telah sejak lama mengondisikan kita untuk mengakui bahwa manusia sangatlah lemah.

Dalam pemikiran saya pernikahan memang telah membawa permasalahan yang sedemikian rigid. Pasalanya pernikahan merupakan gerbang di mana ada seorang lelaki dan seorang perempuan yang rela bersep kat membagi hidupnya, satu sama lain. Bukan hanya itu, pernikahan juga telah melembagakan pewarisan masalah kepada generasi-generasi selanjutnya. Saya memang harus memberanikan diri menentukan bahwa kumpulan benang kusut ini bermula dari mana, sehingga saya mudah menentukan sikap.

Pernikahan ideal?

Apakah kita masih diwajibkan menikah setelah menyimak cerita panjang tentang kasus-kasus pernikahan yang kerap terjadi di sekeliling kita? Bagi seseorang yang tidak berani menambahkan catatan kelam tersebut tidak perlu merasa berkewajiban. Namun bagi mereka yang merasa tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh  sosio-kultur, setidaknya ada kursus panjang bagi mereka yang hendak mendaftarkan dirinya di KUA. Sebuah kursus yang tidak hanya mengajarkan bagaimana melampiaskan hasrat seksual tetapi juga bagaimana menyelesaikan masalah yang melingkupinya. Tapi lagi-lagi siapa, siapa yang berkompeten dalam bidang ini sementara pendidikan yang ada sudah tak lagi dapat diharapkan. Para pemuka agama hanya dapat membicarakan halal-haram dan/ surga-neraka, seksolog hanya dapat membicarakan kecabulan dan orang tua, mereka hanya dapat memberi restu atau tidak bila ada seorang lelaki datang untuk melamar anak gadisnya.

Masihkan kita perlu membicarakan pernikahan ideal sementara pandangan mata kita masih gelap mengenai apa dan bagaimana idealitas pernikahan? Barangkali tak ada yang cacat dari budaya perikahan kita sehingga tak ada satu hal pun yang harus diubah, hanya saja kita (bila menikah) akan turut memberikan andil atas keberlangsungan hidup sosio-kultur yang begini-begini saja. Sementara seseorang yang memilih berselibat, setidaknya ia berahasil memotong satu dari sekian rantai masalah yang umumnya tak pernah berakhir, tapi kemudian apakah masalah sudah cukup sampai di situ? Saya rasa tidaklah semudah itu mengambil kesimpulan. Hidup itu sendiri memang masalah, kita hanya tahu kalau hidup ini masalah tapi tak pernah yakin mampu menyelesaikan masalah. []

3 comments on “Masa Aku Disuruh Menikah….

  1. majid
    14 Juli 2010

    Tulisannnya menarik tp alangkah lebih menarik lg kalau dibahas darimana munculnya konsepsi ttg pernikahan n kalau asumsinya dari kultur sj maka harus dijelaskn jg darimana munculnya budaya tersebut. apa sebabnya smpai konsep ttg pernukahan (pernikahan sbg budaya) bs muncul? ini pertama. kedua, perlu saudaraku pahami dan bedakan mana konsep dan mana fakta. rusaknya (bermasalhnya) fakta pernikahan tidak meniscayakan dan tidak punya hubungan logis dengan rusaknya (bermasalahnya konsepsi pernikahan itu sndiri. ato cnth lain: org yg menerima KONSEP poligami tidak niscaya secara FAKTA diapun melakukan poligami. ketiga, klo saudaraku sedikit adil, seharusnya pernikahan dan salibat harus dilihat secara seimbang, tidak seakan-akan pernikahan hanya menyebabkn masalah (mis: punya anak) dan salibat “sedikit” lebih baik dari pernikahan karena minimal dia tlh menyelesaikn 1 persoalan. dan tentunya msh banyk lagi persoalan yg harus saudaraku perjelas sehingga tulisan diatas menjadi lbh bagus lg. semoga tulisan itu tidk termasuk simplifikasi. wallahu’alam..

  2. Ngut's
    14 Juli 2010

    Sebagai tanggapan balik, kali ini saya hanya baru dapat menjawab pertanyaan Saudara yang terakhir.
    Perlu Saudara cermati bahwa saya menulis “…hanya saja kita (bila menikah) akan turut memberikan andil atas keberlangsungan hidup sosio-kultur yang begini-begini saja. Sementara seseorang yang memilih berselibat, setidaknya ia berahasil memotong satu dari sekian rantai masalah yang umumnya tak pernah berakhir, tapi kemudian apakah masalah sudah cukup sampai di situ?”
    Secara eksplisit maupun implisit saya tidak sedang memperbandingkan tentang baik-buruk antara menikah dan selibat. Bukankah menikah dan selibat, kedua-duanya sama-sama pilihan? dan setiap pilihan tentu membawa risiko? Dalam hal ini saya malah jadi tidak mengerti, yang Saudara maksud dengan “pernikahan dan selibat harus dilihat secara seimbang” itu seperti apa? Adil dan seimbang itu seperti apa, bedanya apa? Apakah adil dan seimbang itu sama atau hanya serupa? Dan bila kita mendengarkan lagu Iwan Fals “…keseimbangan adalah kosong.” Bagaimana mungkin seorang manusia dapat bersikap dengan kekosongan, bagimana mungkin manusia dapat bersikap tidak memihak (kosong) meski hanya memihak dirinya sendiri? Dan bila adil diartikan dengan ‘menempatkan sesuatu pada tempatnya’ lalu di manakah kita akan menempatkan adil itu sendiri? Apakah hanya di dalam pikiran ataukah hanya dalam tindakan ataukah dalam dua-duanya? Atau bila adil diartikan dengan ‘seimbang’, bukankah adil yang seperti itu hanyalah konsep? Sehingga meletakkan antara menikah dan selibat secara seimbang, sama saja dengan tidak meresponnya sama sekali.

    OK, yang pasti saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Saudara abdulmajjidali@yahoo.com atas respon Anda terhadap tulisan saya. Sebagai jawaban atas permintaan Anda yang lain, nanti tulisan tersebut akan saya lanjutkan dan sekaligus jabarkan dalam episode berikutnya. Sekali lagi terima kasih.

  3. bari
    24 Juli 2010

    ya…setidaknya kita sudah mengetahui dari esensi manusia yang sejak awal adalah makhluk sosial ,, ketidak mampuan adam ketika harus hidup sendiri … koderat manusia yang dalam memecahkan masalahnya membutuhkan bantuan sesamanya bahkan sampai dia akan dikubur sekalipun masih membutuhkan bantuan sesamanya bila dia tidak menikah dan punya anak,, maka siapakah yang akan mengurusinya… karena masyarakat indonesia masih beraneka ragam dalam cara berfikirnya maka hal yang semacam itu adalah wajar terjadi … masyarakat yang cara berfikirnya masih tradisional cenderung simple dalam nikah dan beda dengan masyarakat yang cara berfikirnya sudah matang ,, contohnya seperti orang jerman atau yang lainnya… ini adalah cermin dari ketidak mampuan cara berfikir masyarakat indonesia yang harus kita benahi dengan penyadaran yang materialis idealistis .. bukan idealis materialis…semoga kita termasuk orang mampu berjuang untuk masyarakat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 Juli 2010 by in Edukasi and tagged .