Ngut's Inside

Connected Your Mind and Heart

Do’a Saya, Mungkin Do’a Kita


Pengalaman Saya

Pada tahun 2005 saya termasuk salah seorang siswa Madrasah Aliayah Negeri yang tidak lolos UNAS (Ujian Nasional). Standart nilai minimal yang berlaku waktu itu 4,25 tapi Ujian Matematika saya hanya mendapatkan nilai 3,33. Kejadian waktu merupakan sesuatu yang sangat menyakitkan bagi saya terlebih ketika mengetahui bahwa kawan sebangku saya mendapatkan nilai sempurna: 10.00. Padahal untuk ujian yang hanya beberapa jam itu saya telah mempersiapkannya jauh-jauh hari sebelumnya, termasuk meleksanakan berbagai macam ritual do’a.

Untungnya beberapa hari setelah pengumuman tersebut saya mendapatkan informai kalau ada beberapa Universitas Negeri yang tetap membuka pendaftaran bagi calon mahasiswa baru yang belum mendapat predikat “lulus”. Oleh karena itu, saya berangkat ke Jogja dan mendaftarkan diri di UIN Sunan Kalijaga. Untuk mengantisipasi trauma sebelumnya, saya menemui seorang ‘alim –yang saya anggap mampu dimintai pertolongan do’anya. Dan beberapa hari kemudian saya kembali lagi untuk mengambil “sesuatu” serta diberi secarik kertas yang bertuliskan sebaris do’a untuk diramalkan. Dan begitu ujian seleksi masuk UIN tersebut dilaksanakan, semua instruksi telah saya laksanakan. Hasilnya, thok ceer… saya lulus. Akhirnya trauma kegagalan UNAS terobati, tapi masih ada satu hal yang, di hari-hari kemudian, membuat saya merasa dibohongi. Saya memilih jurusan Aqidah dan Filsafat, sebuah jurusan yang sangat sedikit peminatnya, dan meskipun sewaktu ujian seleksi masuk nilai saya tidak memenuhi, saya tetap bisa lolos.

Kebimbangan Saya

Saya memang punya banyak pengalaman membingungkan tentang do’a, kejadian-kejadian yang akhirnya membuatku bertanya-tanya. “Do’a itu apa?” Barangkali do’a hanyalah sugesti yang sama sekali tidak dapat mengubah takdir seseorang. Dan parahnya lagi, do’a telah menjadi ajang pelampian bagi orang-orang yang merasa kecewa, orang-orang yang sudah merasa tak dapat berbuat apa-apa. Pernahkan ada seseorang yang telah membuktikan bahwa kejadian ini misalnya, memang disebabkan oleh suatu ramalan do’a tertentu, dalam koridor hukum sebab-akibat. Dan saya rasa semua kejadian yang berkaitan dengan do’a memang kejadian yang tak masuk akal, tanpa dapat diprediksi. Tapi mengapa banyak orang yang menyukai hal-hal seperti itu? Apakah hidup ini memang murni tidak rasional? Atau adakah jalan pikiran yang sanggup menjelaskan pengaruh spektakuler dari do’a? Mungkin do’a hanyalah teka-teki dan manusia memang tak sanggup menjelaskannya, karena tak berani menjelaskannya.

Kesimpulan Saya

Dari semua kejadian yang tak masuk penjelasan tersebut saya masih terus berupaya untuk menemukan kesimpulan. Seiring berjalannya sang waktu sembari terus menjalani ritual-ritual kehidupan, sedikit demi sedikit saya menemui titik jelas meski nyatanya saya harus keluar dari mainstream klasik hanya untuk menjelaskan tanya saya tentang do’a.

Do’a saya bukanlah ramalan-ramalah yang harus dihafalkan, apalagi wirid yang menyita banyak waktu. Berdo’a tidak dengan menengadahkan tangan dan menghitung tasbih yang jumlah bijinya selalu tidak lebih dan tidak kurang dari 99. Do’a tidak membutuhkan wasilah tertentu, sebagaimana pemahaman dalam teologi klasik karena do’a adalah kata lain untuk niat. Tepatnya, setiap niat yang membulat dan menjadi tekat, itulah do’a. Itu penjelasan tentang do’a dari saya, yang terakhir kalinya, meski suatu saat akan ada terakhir yang lain. Do’a tidak diucapkan tapi ditanamkan, diwujudkan sebagai tekad dan diwujudkan.

Keterkabulan suatu do’a tidak datang dari Tuhan tapi diri sendiri, yang konsekuen mewujudkannya. Sekali lagi, keterkabulan do’a tidak datang dari Tuhan tapi dari diri sendiri karena kita tidak pernah tahu apakah Tuhan memang mengerti do’a kita dan kemudian mengabulkannya. Mungkin Tuhan pun tak mengeti ketika ada seseorang yang mendo’akannya mati. []

4 comments on “Do’a Saya, Mungkin Do’a Kita

  1. Red
    26 September 2010

    saya pribadi berpendapat jika doa adalah afirmasi yg kita ucapkan ke alam semesta. semesta ini seperti cermin raksasa yang memantulkan kembali apa yg kita proyeksikan dengan kekuatan yg berlipat ganda. people call it ‘god’, ‘yahwe’, ‘sang hyang widhi’. etc. i simply call it ‘the universe’🙂

  2. Ngut's
    2 Oktober 2010

    Setiap orang memang berhak berpendapat apapun tentang do’a, yang penting tidak memaksa orang lain untuk mengakui suatu pendapat tertentu.
    Ok Sobat, terima kasih atas kunjungan Anda.

  3. yan sasmita
    21 Oktober 2010

    salam kenal ……
    pengalan anda hampir sama dengan saya. saya temasuk orang yang pernah putus asa. dan saya yakin hampir semua orang juga mengalaminya.
    terimakasih dengan tema blog dan artikel yang anda tulis membuka fikiran saya untuk membuat blog.
    karena saya ingin membuat blog,tapi saya bingung harus mulai dari mana dan artikel apa yang harus saya tulis.
    tentang blog anda…
    tentang doa, mungkin agak bertolak belakang dengan saya. tapi itulah kebebasan berekspresi dan kepercayaan yang kita anut. yang penting adalah hubungan harmonis pertemanan maupun persaodaraan.

    semoga sukses selalu

  4. Ngut's
    22 Oktober 2010

    Ok saudara. Terimakasih atas komentarnya, berarti saya beri judul “Do’a saya, mungkin do’a kita” ga keliru dong….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13 Juli 2010 by in Agama.