Ngut's Inside

Connected Your Mind and Heart

Di balik Kemunculan Do’a CaLoN TUHAN


Saya yakin bahwa setiap orang, entah jujur atau tidak, pasti bertuhan meski setiap orang memiliki tafsir yang berbeda untuk memahami sepenggal kata sakral: Tuhan. Dalam koridor keagamaan, kata Tuhan selalu memiliki makna transenden, setidaknya ada di luar jangkauan manusia meski demikian manusia selalu berjuang untuk memahaminya. Dalam diskursus Islam, kata Tuhan dilafadzkan dengan Allah dan di salah satu ayat al-Qur’an disebutkan bahwa “Laisa kamitslih syai-an” –tak ada sesuatu yang menyerupainya– Meski saya tidak bisa menolak bahwa kalimat tersebut merupakan penyerupaan/definisi, bahasa memang tidak sepenuhnya dapat mewakili realitas, terlebih ketika berbicara tentang sesuatu yang –dalam istilah Kant– disebut noumena. Sementara dalam koridor yang lebih luas, pengertian Tuhan telah mengalami banyak perkembangan. Sutarji misalnya, ia telah meninggalkan coretan tentang Tuhan 9 cm, setelah dipahami tenyata artinya rokok –barangkali rokok Djarum Super, bukan Djarum 76– Dan ada juga yang mengatakan bahwa dalam realitasnya Tuhan manusia adalah duit (baca: rupiah, dalam konteks intern Indonesia). Bahkan sampai muncullah sebuah opini bahwa kata Tuhan harus ditulis dengan “T” besar karena bila penulisannya menggunakan “t” kecil (tulis: tuhan) maka sepenggal kata tersebut akan kehilangan sakralitasnya. Tapi haruskah demikian? lagi-lagi kita harus ingat bahwa itu adalah tafsir, setiap orang berhak menafsirnya masing-masing.

Tahun 2007, bagi penulis merupakan tahun bersejarah pasalnya di saat-saat itulah saya mengalami guncangan pemikiran yang dahsyat. Waktu itu saya telah banyak menghabiskan waktu untuk duduk mendengarkan kuliah filsafat, membaca buku-buku filsafat “barat” dan sesekali berdiskusi dengan teman-teman sekelas. Sampai suatu hari saya berkenalan –meski lewat tulisan– dengan seorang filsuf Jerman yang diahir hayatnya terkena gangguan jiwa, dialah Friedrich Wilhelm Nietzsche, seorang pesakitan yang dijuluki Bapak Postmodernisme. Bukan hanya itu, melalui coretan tangannya dalam “Menschliches, Allzumenschliches” dia akhirnya dikenal sebagai Sang Pembunuh Tuhan –sebuah julukan yang terlalu dramatis. Dan di lain kesempatan dia juga menulis, “Segalanya sama, segalanya sia-sia, dunia tak bermakna… pengetahuan mencekik…–Also Sprach Zarathustra.” Konon berdasarkan pemahaman yang saya dapati, selama ini manusia tidak sungguh-sungguh ketika mengabdi kepada Tuhan, Tuhan hanya dijadikan sebagai simbol dan menurut Karl Marx, gagasan tentang Tuhan hanyalah dongeng bagi kaum proletar yang telah diciptakan oleh borjuis agar mereka tidak menolak takdir hidupnya sebagai buruh murahan. Pasalnya bagi mereka yang tetap mau bersabar dengan takdir hidup yang telah Tuhan berikan, pasti kelak Tuhan akan menganugerahi kehidupan surga, yang penuh kenikmatan. Tentunya teori Marx tersebut ditopang dengan beberapa bukti bahwa umumnya kaum agamawan adalah orang-orang yang miskin secara ekonomi, berbeda dengan kaum borjuis. Sampai muncul suatu kesimpulan bahwa agama telah membuat manusia menjadi lemah, agama sama sekali tidak me-manusia-kan manusia. Oleh karena itu, muncullah gagasan baru di Eropa yang disebut Aufklarung, manusia beramai-ramai meninggalkan Tuhan dan balik mempercayai dirinya sendiri. Tapi akhirnya, menurut Nietzsche, manusia pun kebablasan ketika memahami diri-nya sendiri. “Tuhan telah mati karena kita sendiri yang telah membunuhnya…,”

Dan bagi saya, anehnya, hal itu merupakan sesuatu yang menarik, sesuatu yang sama sekali baru. Bisa jadi memang karena sebelumnya saya hanya berkawan dengan buku-buku yang “berbau Arab”. Bagi seseorang yang terlahir dari lingkungan “Islam Santri”, hal yang demikian memang sangat wajar dan sangat wajar pula bila kemudian seseorang harus berpindah keyakinan (Shifting Paradigm). Pastinya saya mengalami banyak hal menarik selama berkenalan dengan filsafat baik “barat” maupun “timur”, termasuk sebagai konsekuensinya saya pun harus mengalami degradasi pemikiran.

Di tengah kegelisahan karena melihat adanya ketimpangan Das Sein dan Das Sollen akhirnya saya menulis sebuah puisi berjudul “Do’a CaLoN TUHAN” –penulisannya pun berjenjang dari Do’a (dengan “D” besar karena di awal kata kemudian diikuti dengan huruf-huruf kecil) kemudian CaLoN (campuran/selang-seling antara huruf besar dan kecil), lalu TUHAN (dengan huruf besar semua). Penulisan seperti itu saya maksudkan sebagai proses, dari kecil menuju BESAR. Tentunya do’a di sini, saya maksudkan tidak sebagai aktivitas menengadahkan tangan melainkan tekad, do’a adalah tekad. Dan Do’a CaLoN TUHAN adalah tekad untuk menjadi Tuhan. Pertanyaan besarnya adalah Tuhan dalam pengertian seperti apa? Waktu itu saya memaksudkan bahwa apa-apa yang selama ini kita sebut sebagai Tuhan tidak lain hanyalah sesuatu yang hanya mengada dalam pikiran, kita menyembah Tuhan artinya kita menyembah konsepsi Tuhan dalam pikiran kita masing-masing, pastinya kita hanya menyembah pikiran sendiri. Kita telah menyembah diri-kita sendiri. Dengan kata lain, manusia adalah Tuhan hanya saja kita kurang yakin untuk mengakui bahwa kita adalah Tuhan. Oleh karena itu perlu adanya tekad untuk meyakinkan diri bahwa manusia adalah Tuhan.

Suatu waktu saya ditanya oleh seseorang, “Apakah kamu telah menjadi Tuhan?”

2 comments on “Di balik Kemunculan Do’a CaLoN TUHAN

  1. Nuryanto
    28 Juni 2010

    Ngust…Boleh aku sedikit mengkritik Tulisanmu. Diskripsi kamu tentang Tuhan dalam sebatang rokok membuat aku harus tertawa, hahahaaha. Ternyata 76 bagi kamu tidak mewakili sebagai Tuhan. Pasalnya 76 adalah Tuhan kamu. Kalau aku sih Tuhan rokoknya lebih asyik. Aku lebih memilih melting pot…hehe. Karena memang lebih banyak dan lebih bervariasi.

  2. Ngut's
    28 Juni 2010

    Rokok faforitku wes ora 76 neh Kang……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 12 Mei 2010 by in Short Story.