Ngut's Inside

Connected Your Mind and Heart

Penjara Lain dalam Surga


Inilah Lemahbang, tanah batu putih yang sedih dalam kekeringan. Setelah gempa melanda 27 Mei 2006, bebatuannya semakin bertambah suram. Beberapa orang mulai garang berebut antrian, membeli air. “Air mahal!” dan semakin hari semakin langka. Sementara pipa-pipa PDAM yang dikelola pemerintah kering, pasokan airnya tak cukup sampai di ujung. Menurut tetangga sebelah, “Pemerintah desa tak becus memikirkan rakyatnya. Pipa-pipa kosong hanya kendaraan politik mereka.”

Sungguh, Lemahbang yang malang. Kau sendiri tak tahu bagaimana Tuhan mentakdirkanmu. Anjing-anjing dekil yang selalu berkeliran di malam hari Lemahbang juga tak pernah sempat mengabarkan pada saudaranya bahwa ia sudah tumbuh dewasa. Masing-masing mereka sibuk mengikuti sang majikan untuk menenteng sebuah ember isi air, namun tak penuh. Kambing-kambing dan sapi pun akhirnya rela memakan damen kering karena tahu pemiliknya sudah bersusah payah membelinya.

Lemahbang nan menyedihkan. Aku heran mengapa orang-orang di sini bagitu setia menemaninya, hidup dan mati. Tapi aku percaya kalau jalan bebatu yang berkelok-kelok dengan tebing dan jurang menyisir perbukitan membuat mereka menjadi warga sejati. Kondisi yang tak menentu sudah menjadi hidup mereka. Susah dan sedih adalah hiburan mereka. Di sini, gotong-royong dan saling sapa menjadi sesuatu yang biasa tapi tak mungkin ketemu di kota. Gejolak ketelanjangan terus mengalir bersama darah lalu membentuk pola pikir mereka yang berharga.

Tuhan entah di mana ketika aku di sini. Masjid-masjid pun sepi hanya dihuni oleh kitab-kitab lusuh dan mikrophone rapuh. Sepanjang siang dan malam tak ada bedanya, ketelanjangan telah menyebabkan masjid-masjid layak disebut kuburan. Sakral dan angker.

Kalian berkewajiban untuk meramaikan masjid-mushala di tempat kalian berada,” pesan yang sempat aku catat dari kelurahan setibanya aku dan kawan-kawan menjadi mahasiswa KKN di Dusun Lemahbang beberapa hari lalu. Awalnya aku tak paham apa maksudnya, aku hanya menganggapnya doktrin yang tak layak dipertanyakan. Beberapa hari telah berlalu, beberapa orang telah kutemui, beberapa tebing dan jurang telah kulewati dan aku baru tahu satu hal: melelahkan. Aku dibuat terheran-heran oleh ketololanku sendiri. Identitas kemahasiswaanku lepas dengan mudahnya setelah angin malam Lemahbang menerpa tubuhku.

Idealitas agung yang selama ini aku bangun tiba-tiba rontok di puncak Gunung Wayang setelah kutatap sayup-sayup kota jauh di bawah sana. Hanya sayangnya, apa yang sedang dicari tak berhasil aku temukan. Padahal sudah di depan mata. Aku hampir menemukan kearifan puncak! Begini, aku masih harus banyak belajar pada bocah-bocah petualang yang tak kenal lelah.

Hari-hari di Lemahbang masih membuatku terasing dan tak tahu diri. Kebanggaan-kebanggaan yang dibawa dari kampus membuatku selalu mudah mengantuk. Karena jauh dari apa yang terjadi. Aku tak tahu harus bagaimana agar tanah gersang ini menjadi hidup, dalam 2 bulan ini. Teman-temanku juga sama, tak ada yang bisa dikerjakan. Program kerja KKN menjadi formalitas belaka. “Sesuatu yang tak pantas, tak perlu dikerjakan saja.” Untuk laporan, toh nanti bisa direkayasa. Wah, KKN ini bagai penjara lain dalam surga.

Menghuni tempat asing dengan seribu tuntutan yang begini dan begitu. Wah, betul-betul penjara lain dalam surga.

Boleh dikata, aku pun anak desa. Hanya sayangnya, Lemahbang bukan desaku, bukan tanah yang membentuk mata dan hatiku. Dari kecil aku tak terbiasa dengan menyusuri lereng-lereng bukit untuk membeli air dan membilas rambut panjangku.

Itulah romantisme. Entah mengapa seseorang tak bisa melepaskan romantisme dalam hidupnya.

Sesampai di Lemahbang aku masih tak bisa mengontrol falsafahku yang telah berkembang sampai di mana. Setahuku, falsafah belum mampu melerai konflik air di lereng bukit ujung Yogyakarta ini. Falsafah baru bisa berkata: aku stress dan terasing di jalan hidup dataran tinggi.

Barangkali masih tak ada bedanya dengan yang lain, yang kemarin ramai-ramai turun ke kampus menuntuk kinerja LPM yang manja. Intinya mahasiswa butuh dana tapi ”KKN dipersingkat…!” itu pun salah satu opsinya. Jika betul begitu, aku pasti bisa tersenyum. Apalagi LPM berjanji akan mengajukan kepongahan-kepongahannya ke rektorat, meski ”Kami baru bisa memutuskannya Rabu besok.” Memang, LPM yang sama bodohnya dengan mahasiswa.

Entah siapa yang awalnya memulai, bahwa yang tertindas harus berdemo. Untuk itu mahasiswa berdemo. Bahkan muncul pepatah, ”pelajar tawuran sedang mahasiswa berdemo.”

Di mataku Idealisme KKN sebagai pengabdian terhadap masyarakat terlihat dalam bongkah-bongkah kebohongan belaka. Ok, aku hargai niat tulus kampus dengan LPMnya. Namun niat tulus tidak diimbangi dengan profesionalisme dan ikhlas pasti ngacau. Inilah aku yang begitu mendendam KKN.

Selama 2 bulan ini KKN hanya liburan yang membingungkan. ”Mengabdikan 2 bulan pada masyarakat,” inilah keresahanku. Bagiku, dalam 2 bulan turis asing bisa berbuat apa?

“Sosial-keagamaan,” hanya itu tafsir LPM saat pembekalan dulu. Jejaring kerja yang jelas dan mudah dicerna untuk sekedar membatasi ”sosial-keagamaan” tak pernah menyata.

”Mahasiswa adalah masyarakat terdidik, mampu mengurus dirinya.” Rupanya LPM suka bermain logika. Suatu saat ia akan dipermainkan oleh logikanya sendiri. [20 Juli 2008]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 November 2009 by in Short Story.