Semua serba Kebetulan
Posted by Ngut's
“Manusia merencana dan Tuhan yang menentukan,” ungkapan yang sederhana tapi sebanding dengan bobot “Being and Event”, sebuah karya masterpiece dari Alain Badiou. L’etre et l’evenement atau Inggrisnya Being and Event, alias Ada dan Kejadian dikenal luas sebagai babak baru bagi sejarah kefilsafatan Eropa abad 21, sebuah babak baru setelah merudupnya pamor Postmodernisme. Slavoj Zizek sendiri, sebagai teman seperjuangan Badiou, berpendapat bahwa “Being and Event” merupakan karya tandingan atas masterpiece Martin Heidegger, yaitu “Being and Time”.
Dalam “Being and Event”, Badiou menawarkan pemikiran paling sistematis tentang hubungan antara ‘being’ (menjadi) dan ‘change’ (berubah menjadi –yang kemudian disebut ‘event’). Gagasan Badiou tentang ‘being dan event’ hanya dapat dipahami melalui matematika, pasalnya ‘matematika sebagai ontologi’ tidak berusaha merepresentasikan being tetapi menangkap proses keseluruhannya. Sederhananya, Badiou menggunakan Teori Himpunan untuk merefleksikan ‘being dan event’. Berdasarkan teori himpunan, Badiou menjelaskan istilah ‘being-qua-being’, yakni being yang tidak didefinisikan oleh kualitas atau predikat apa pun (‘One is x’), tetapi being yang mempredikatkan diri sendiri. Mengganti being yang tanpa substansi menjadi being dari sejarah memungkinkan Badiou menghindari posisi pesimisme Maois bahwa kesadaran politik bisa berisi sama banyaknya dengan realitas dunia (Peter Hallward 2003: 51).
Memahami teori semacam itu memang sama sulitnya ketika mencerap informasi dari Albert Einstein bahwa alam semesta berkembang. Baik Einstein maupun Badiou, keduanya sama-sama hendak memahami realitas berdasarkan rumus Matematika. Hanya bedanya Einstein menjabarkannya dalam rumus-rumus Fisika sementara Badiou sibuk dengan teori himpunan. Sampai di sini kita sudah dapat membayangkan, mencari padanan yang cocok untuk teori Einstein dan Badiou dalam kehidupan sosial sangatlah sulit, bahkan mustahil. Dengan demikian untuk dapat memahami teori keduanya, mau tidak mau harus menempuh jalan yang mereka tempuh.
Lanjut mengenai ‘being dan event’.
Menurut Badiou, realitas –atau yang dalam bahasa filsafat disebut ‘being (ada)’– terdiri dari kejadian-kejadian yang tumpang tindih (multiplisitas). Setiap kejadian berlangsung dalam situasinya masing-masing, khusus untuk situasi politik, sains, seni dan cinta disebut sebagai situasi filosofis. Badiou menunjuk kejadian sebagai sesuatu yang fenomenal, tak terprediksi dak tak dapat diintervensi atau dalam bahasa kita disebut ‘kebetulan’
bersambung…
Like this:
Tentang Ngut's
is learning be himself. Learning by thinking, learning by doing.Posted on 13 Januari 2012, in Metafisika. Bookmark the permalink. 3 Komentar.











Man, aku pengen belajar Alain Badiou. awakmu eneng refrensine ra?
Klo sekedar copian –Theory of Subject, Being and Event, Logic of Worlds, Infinite Thought, Ethics, Communist Hypothesis, Pocket Pantheon, Methapolitics dan Polemics– aku punya….
Kapan kita bisa ketemu terus share data?
aku cah Kranggan sing nduwe beloglepot,keturunan Kutawera