Ngut's Inside

Connected Your Mind and Heart

Peran Deisme,-


PERAN DEISME TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA ZAMAN MODERN

A.  PENDAHULUAN

Manusia mengaku sebagai makhluk yang paling beradab bila dibandingkan dengan yang lainnya, terutama binatang misalnya. Pasalnya, disamping ia memiliki panca indera, insting dan keinginan seperti binatang, ia memiliki sesuatu yang binatang tak memilikinya; akal dan hati. Dengan berbagai komponen itulah, mausia hidup dan membangun budaya, membangun peradabannya. Salah satu hasil dari peradaban manusia adalah agama. Agama merupakan suatu tata aturan moralitas yang disepakati oleh sekelompok manusia (masyarakat). Setiap masyarakat yang mendiami suatu daerah tertentu memiliki budaya yang berbeda dari masyarakat di daerah lain. Oleh karena itu pulalah, agama baik doktrin maupun ritualnya selalu berbeda-beda. Emile Durkheim mengatakan bahwa agama hanyalah suatu produk budaya masyarakat yang mendiami daerah tertentu.

Namun begitu, sebagian orang ada yang mengatakan bahwa agama bukan sebuah produk budaya semata tetapi datang dari langit, dari Dzat yang maha gaib, maha segalanya. Oleh karena itu, agama adalah sakral dan tidak boleh dipertanyakan kebenarannya. Sebab akal manusia tidak akan pernah tahu kebenaran yang sesungguhnya. Manusia harus taklid terhadap wahyu yang telah diturunkan. Dengan demikian agama menjadi dwi-polar, di satu sisi imanen (membumi) dan di sisi yang lain transenden (melangit).

Dari unsurnya yang transenden (baca; doktrin), kemudian manusia menerjemahkannya menjadi imanen (baca; ritual) dan termenifestasi dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, dalam beberapa agama (Kristen dan Islam, misalnya) unsur transendentalitasnya selalu terlihat lebih kental dari pada imanentalitasnya. Hal tersebut diperparah lagi dengan dilegitimasikannya suatu agama dalam suatu wilayah tertentu, akibatnya agama menjadi suatu doktrin jumud dan tertutup.

Dengan demikan, “para pemberontak” kerap kali muncul karena menginginkan adanya sirkulasi udara yang lebih segar dalam beragama. Paham Deisme adalah salah satu contohnya, munculnya paham ini merupakan suatu reaksi terhadap dominasi gereja yang begitu membatasi ruang gerak para penganutnya. Tetapi apakah deisme, sebagi konsep yang betul-betul baru mampu melontarkan kritiknya terhadap gereja yang begitu berkuasa?

Itulah tema yang akan menjadi fokus dalam pembahasan makalah ini. Deisme yang awalnya merupakan sebuah konsep teologi, ternyata membawa dampaknya terhadap aspek-aspek kehidupan yang lain. Akan tetapi dampak yang ditimbulkan dari deisme tidak selalu positif, bahkan kadang terlalu negatif.

B.  PEMBAHASAN

Istilah Deisme berasal dari bahasa Latin: deus yang berarti Tuhan. Paham ini meyakini bahwa Tuhan adalah first cause, yang menciptakan alam semesta ini dengan penuh perancangan rumit.[1] Oleh karena itu, setelah alam ini terbentuk Tuhan sudah tidak perlu lagi ikut campur memeliharanya. Cukup hanya diatur oleh hukum alam (sunatullah) alam ini sudah bisa dengan mandiri melanjutkan kehidupannya. Bahkan karena Tuhan telah menetapkan hukum alam itu, akhirnya Tuhan pun tak lagi kuasa untuk mengubahnya.

Menurut faham deisme Tuhan berada jauh di luar alam (transenden), yaitu tidak berada dalam alam (immanen). Tuhan menciptakan alam dan sesudah menciptakannya, Ia sudah tidak memperhatikannya lagi. Alam berjalan dengan peraturan-peraturan yang sesempurna-sempurnanya. Dan karena demikian, Tuhan tak perlu lagi mencampuri urusan alam, termasuk juga urusan manusia. Singkatnya, alam semesta ini tidak berhajat kepada Tuhan dan Tuhan pun tak perlu mengurus alam lagi….[2]

Tuhan dalam hal ini bukanlah Tuhan yang sebagaimana dikenal oleh kaum agamawan: Tuhan yang harus disembah, yang memberi rizki ataupun yang menentukan takdir. Melainkan sesuatu yang menjadi sebab pertama (first cause)[3] Alam semesta yang menakjubkan ini adalah Tuhan sang penciptanya. dalam rangkaian kausalitas terbentuknya alam semesta ini.

Paham deisme pertama kali muncul di Inggris sekitar akhir abad XVI, yang digagas oleh para pemikir seperti; John Toland (1670-1722) dan Metthew Tindal (1656-1733) yang menulis buku “Cristianity as old as creation”, Giordano Bruno (1548-1600), Lucilio Vanini (1584-1619), Barukh Spinoza (1632-1677), Hermann Samuel Reimarus (1694-1768), Gotthold Ephraim Lessing (1729-1781) dan Moses Mendelssohn (1729-1786). Aufklarung berkembang di seluruh Eropa, tak terkecuali di Perancis dengan tokohnya Francois-Marie Arouet (Voltaire; 1694-1788) dan Jean-Jacques Rousseau (1724-1781). Tersebar pula ke Jerman oleh Immanuel Kant (1724-1781),[4] Kemudian tersebar juga di Amerika, yang dibawa oleh para founding fathernya, antara lain; Benjamin Franklin (1706-1790), Thomas Paine (1737-1809) dan Thomas Jefferson (1743-1826).

Pada waktu itu, deisme menjadi suatu fenomena baru dan penting  dengan gagasannya yang sangat rasilonal. Deisme adalah sebuah agama yang menolak agama, tepatnya menolak semua doktrin agama (doktrin gereja pada saat itu) terutama yang berkaitan dengan wahyu dan kehidupan akhirat. Karena alasannya sederhana: tidak rasional. Sumber kebenaran adalah akal manusia, bukan wahyu. Namun mereka tetap meyakini akan keberadaan Tuhan. Tiga kebenaran utama dari “teologi natural” yang ditegakkan dengan akal manusia itu adalah keberadaan Tuhan, nilai-nilai moral, dan kekekalan jiwa.[5] Dalam sejarahnya, mereka mengembangkan argumen-argumen deisme dalam rangka mengkritik gereja. Karena menurut mereka gereja telah mengajarkan hal-hal yang aneh dan bahkan mengerikan.[6] Oleh karena itu, ajaran gereja harus digantikan. Karena itulah gagasan deisme dimunculkan sebagai muara dari kritik mereka.

Deisme adalah bentuk monoteisme yang meyakini bahwa Tuhan itu ada, Maha Esa, Maha Baik (God is Good), Tuhan selalu dilekati dengan sifat yang baik-baik. Namun demikian, seorang deis menolak gagasan bahwa Tuhan ikut campur di dalam dunia dikarenakan jika Tuhan ikut campur terhadap urusan duniawi, sebagaimana yang dikenal dalam ajaran gereja, berarti Tuhan tidak lagi baik. Tuhan telah berbuat otoriter karena membelenggu kebebasan manusia dalam berkarya. Sifat ke-baik-an Tuhan ini hanya dapat dikenal melalui nalar dan pengamatan terhadap alam. Karena itu, seorang deis menolak hal-hal yang ajaib (wahyu) dan klaim bahwa suatu agama atau kitab suci memiliki pengenalan akan Tuhan.

Dhammawan mengungkapkan bahwa kita dapat melihat bahwa antara pantheisme dan deisme terdapat dua kunci konsep mengenai Tuhan yang berbeda, yaitu immanental dan transendental. Tuhan yang immanental adalah Tuhan yang mempunyai sifat sebagai penghibur, penasehat, dan penggugah. Sedangkan Tuhan yang transendental adalah Tuhan yang merupakan objek yang dihormati dan dipuja oleh manusia karena manusia tidak seberdaya Tuhan. Pantheisme melihat keberadaan Tuhan di dunia ini ada dalam berbagai kehidupan manusia, sedangkan deisme melihat status Tuhan di atas dan di luar kehidupan yang diciptakanNya, tidak berubah-rubah diantara berbagai perubahan dan kemusnahan.[7]

Tuhan harus dipahami sebagai sesuatu yang sangat transenden. Sebab jika tidak, justeru akan menodai ketuhanan-Nya. Menurut mereka, gereja telah melecehkan Tuhan karena turut campur tangan dalam kehidupan manusia. Tuhan sudah bukan Tuhan lagi, tapi sudah menjadi manusia. Bagi para deis tidak mungkin jika Tuhan yang maha baik membatasi kebebasan manusia untuk berkarya.

Sebetulnya, jika tanpa manyebut-nyebut Tuhan akal manusia sudah dapat mengetahui asal-usul alam semesta dan seluruh misterinya, maka gagasan tentang Tuhan tak perlu ada. Hal inilah yang menunjukkan bahwasanya akal pun tidak bisa berdiri sendiri. Akan tetapi manusia modern sudah terlanjur mempertuhankan akal sehingga biar bagaimanapun Tuhan pun harus tunduk di bawah akal. Dan itulah yang Tuhan kehendaki.

Akal is Replacement The God

Berangkat dari pemahamannya akan Tuhan yang maha suci dan transenden, kemudian mereka sampai pada pengertian bahwa manusialah yang seharusnya mengurus dan mengembangkan dirinya sendiri. Karena itu Tuhan telah menganugrahkan akal untuk berpikir dan menentukan pilihan. Sementara itu di alam semesta, Tuhan telah menganugrahkan hukum alam yang sempurna. Perpaduan antara hukum alam dan akal manusia adalah suatu bukti bahwa Tuhan ada dan manusia merdeka.[8]

Meski dalam suatu kasus tertentu, kadang akal manusia tidak cukup mampu untuk menerjemahkan fenomena alam yang tiba-tiba saja terjadi. Namun demikian bukan berarti manusia harus menyerah dan akhirnya pasrah terhadap takdir. Memang mereka (para deis) juga menyadari bahwa akal dengan berbagai argumennya sangatlah terbatas untuk memahami alam secara komprehensif dan kerap akhirnya manusia pasrah terhadap Tuhannya.

Realitas memang demikian, namun bukan semangat kepasrahan yang diinginkan oleh para deis. Akan tetapi sebaliknya, semangat yang diajarkan deisme adalah semangat hidup yang menyala-nyala. Dengan modal akal yang dimiliki, manusia sebetulnya mampu untuk menghadapi hidup ini sekaligus mampu mengungkap semua rahasia alam, tanpa harus tunduk pada aturan gereja. Dan sebetulnya dengan akalnya manusia mampu membuat peraturannya sendiri, menentukan moralitasnya.

Kant menambahkan bahwa konsep moralitas adalah untuk ide kebebasan. Meski sebetulnya seseorang tidak bisa membuktikan bahwa kebebasan itu aktual di dalam dirinya. Hanya saja ketika seseorang menganggap dirinya rasional dan memiliki suara hati, hal tersebut hanya dapat diwujudkan melalui kehendak, kehendak dari kebebasan manusia.[9]

Dari semangat deisme yang menyala-nyala, kemudian banyak yang tertarik konsep deisme meski sebetulnya, banyak pula yang mengkritiknya. Namun dalam sejarahnya, deisme berhasil dalam mencerahkan (Aufklarung) manusia dari zaman kegelapan di Eropa. Zaman di mana nasib kehidupan manusia ditentukan oleh gereja.

Deisme dan Ilmu Pengetahuan

Dengan munculnya aufklarung, di sisi lain, runtuhnya dominasi gereja, ilmu pengetahuan menjadi berkembang pesat. Teori Galilei Galileo tentang Heliosentris misalnya, menjadi diakui dalam ranah ilmiah meski ia sendiri telah menjadi korbannya. Warga eropa betul-betul mengalami zaman modern, semua sektor kehidupan manusia sampai  sektor keagamaan pun berubah. Orang-orang Eropa yang tadinya rajin ke gereja, dan punya banyak waktu luang, kini telah disibukkan oleh berbagai yang rasional dan realistis; ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Lambat laun, agama kristen dengan ritual-ritualnya sudah mulai ditinggalkan. Setelah kecenderungan orang berubah menjadi rasional dan empiris, gagasan-gagasan tentang deisme mulai dilirik dan hangat dibicarakan. Disamping gagasannya yang rasional, deisme merupakan agama yang tidak memerlukan ritual dan karena itulah deisme hadir memberikan sebuah alternatif bagi orang modern.

Standar validitas keilmuan yang awalnya dipegang gereja kemudian diganti dengan konsep yang positivistik. Gereja sudah tidak memiliki wewenangnya kembali untuk menentukan sah dan tidaknya suatu penemuan ilmu. Orang eropa sudah memiliki kesepakatan umum bahwa penemuan ilmiah adalah yang logis dan empiris.

Berawal pada abad ke-18, dimulainya zaman baru yang memang berakar dari renaisance, yang disebut sebagai Pencerahan (Aufklarung), semboyannya adalah “Beranilah Berpikir”. Sikap pencerahan terhadap agama pada umumnya memusuhi atau sekurang-kurangnya mencurugai. Salah satu alirannya adalah Deisme di Inggris yang menentang kepercayaan berdasarkan agama. Deisme memberikan kritik akal dan menjabarkan ilmu pengetahuan bebas dari segala ajaran gereja.

Abad ke-19 merupakan abad yang sangat dipengaruhi oleh filsafat Positivisme, terutama di bidang ilmu pengetahuan. Abad positivisme ditandai oleh peranan yang menentukan dari pikiran-pikiran ilmiah. Tokohnya adalah August Comte (1798-1857) yang terkenal dengan hukum tiga tahap pemikiran manusia: Teologis, Metafisik, dan Positivisme yang bermakna real dan ilmiah. Positivisme memberikan inspirasi yang luar biasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-19 hingga abad ke-20.

Namun pada awal abd ke-20, berkembang aliran-aliran pragmatisme, dengan tokohnya William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952) di Amerika Serikat. Fenomenologi dengan tokohnya Edmund Husserl (1859-1938) dan kemudian Eksistensialisme yang dibintangi oleh Soren Kierkegard, Martin Heidegger, Jean Paul Sartre, Karl Jasper dan Gabriel Marcel yang menekankan pada eksistensi manusia dengan seluruh otonaminya yang tak terbatas. Aliran-aliran pemikir ini kemudian dikenal dengan Post-modernisme. Inti dari pemikiran abad Post-Modernisme adalah kritik terhadap pemikiran abad modern yang memposisikan rasionalitas di atas segala-galanya.

Oleh karena itu, paska runtuhnya pemikiran modern dan bergantinya kecenderungan post-modern, hal-hal yang berbau irrasional dan eksistensial dimunculkan. Gagasan eksistensialisme misalnya, yang pada masa modern dianggap tidak mungkin karena bertentangan dengan objektivisme lalu dapat diterima. Seorang eksistensialis kerap mengemukakan bahwa pengalaman kebertuhanan manusia adalah pengalaman yang sangat individual dan tak mungkin untuk diatur sedemikian rupa.

Dan seseorang menganggap Tuhannya dengan anggapan apapun, bukanlah suatu masalah karena itu hak dia. Ataupun seseorang mau bertuhan atau tidak, itu juga hak azazi manusia. Hanya sayangnya, manusia selalu tidak mungkin untuk berpikir mandiri, manusia dalam berpikirnya selalu mengikuti para pendahulunya. Dan karena itulah dibutuhkan suatu metode kritis dalam berpikir. [10]

Dengan kata lain dapat kita simpulkan bahwa hubungan antara deisme dengan perkembangan ilmu pengetahuan sangat erat. Deisme telah mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas, tidak dibatasi oleh agama maupun Tuhan. Adanya kebebasan manusia dibuktikan dengan akal yang menusia miliki. Dengan akal itulah, manusia harus menggunakan pikirannya dalam menyikapi hidup ini. Dan hasil dari bauh karya pikiran manusia adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus bebas, tidak boleh dibatasi oleh nilai-nilai tertentu (bebas nilai).[11] Meski kemudian filsafat abad modern mendapat kritik tajam dari para pemikir aliran Post-Modernisme.

Deisme dalam Analisis Kritis

Sadar ataupun tidak, manusia modern jelas telah melestarikan gagasan deisme. Bibit-bibit paham ini telah berhasil ditanamkan dan ternyata banyak yang memetiknya. Jelas karena paham ini dipandang pro humanistik (semangat aufklarung). Apalagi dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, peran agama dan Tuhan memang sudah tidak diperlukan lagi. Adalah Sigmund Frued (1856-1939) yang mengatakan bahwa Agama dan Tuhan hanyalah ilusi. Dan nyatanya agama telah menyebabkan manusia menjadi kerdil dan tak percaya terhadap dirinya sendiri. Sementara Karl Marx menyebutkan bahwa agama sebenarnya hanyalah alat politik yang diciptakan oleh kaum borjuis untuk menentramkan hati orang-orang proletariat. Bahkan filsuf kenamaan Jerman, Friedrich Nietzsche meyakinkan bahwa Tuhan telah mati (Got ist tott), manusia sendiri yang telah membunuhnya. Bagi orang modern, Tuhan merupakan suatu penghambat terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sehingga sudah selayaknya Tuhan harus disingkirkan.[12]

Memang benar, dengan upaya membunuh Tuhan ilmu pengetahuan dapat tumbuh sedemikian pesatnya. Hal ini dapat diketahuai terutama setelah kita memperbandingkan antara capaian ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh orang-orang sekular dengan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh orang-orang agamis. Tentu kita akan mendapatkan sesuatu yang aneh tapi mengagumkan. Bahkan kini ilmu pengetahuan telah menjadi Tuhan baru bagi manusia modern.

Namun tidak terlepas dari kemegahan itu semua, ternyata deisme telah menyesatkan manusia modern ke lembah kehampaan. Di atas puncak perkembangan ilmu pengetahuan modern manusia semakin kehilangan arah pijakannya, mereka bertanya-tanya, “Setelah ini kita akan ke mana?” Dengan demikian zaman kegagahan umat manusia (selama abad modern) pun seolah menemui ajalnya.

Lalu bagaimana mungkin jika manusia mati sementara kehidupan ini masih berlanjut? Jika benar bahwa Tuhan telah pensiun dari jabatannya setelah alam raya ini terbentuk, manusia harus bagaimana? Apakah harus mengulang dari nol lagi, tapi nol yang mana? Di samping juga banyak fenomena alam yang manusia dengan akalnya belum mampu menerjemahkan. Sampai akhirnya mau tidak mau mausia harus mengakui bahwa Tuhan pun turut campur dalam kehidupan ini. Kadang Tuhan terasa begitu dekat dengan manusia tetapi kadang pula menjauh.

Dari kajian filsafat barat, kita dapat menemukan bahwa peradaban barat telah menemukan ”kemajuan” ilmu pengetahuan sejak menolak hegemoni gereja pada abad tengah. Keadaan ini menumbuhkan suatu bayangan kosong dalam hati manusia bahwa agama merupakan penghambat kemajuan dan mengekan otonami manusia. Mereka lupa bahwa agama sebenarnya bukanlah suatu kekuatan yang menghambat kemajuan, akan tetapi hal itu terjadi karena penefsiran agama yang terlalu eksklusif yang terjadi pada abad tengah.[13]

Manusia modern produk renaisance juga melupakan satu hal penting, yakni kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dicapai bukanlah satu-satunya unsur terpenting dalam membangun kehidupan manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tanpa memperhatikan unsur-unsur lain dalam kehidupan manusia, spiritualitas misalnya, sama artinya dengan mengingkari hakikat kemanusiaan itu sendiri.

Satu warisan kultural renaisance adalah sikap mendewa-dewakan rasionalitas secara berlebihan. Kenyataan ini mengakibatkan adanya kecenderungan untuk menyisihkan seluruh nilai dan moral yang berdasarkan agama. Hal ini cenderung membuat adanya penolakan terhadap keterkaitan antara jasmani dan rohani. Akibatnya, manusia menjadi terasing tanpa batas dan sebagai konsekuensinya, lahirlah suatu trauma kejiwaan dan ketidakstabilan hidup.

Meletakkan otoritas ilmu pengetahuan dan teknologi telah menyerahkan manusia kepada alat yang diciptakannya sendiri. Berarti pula akan menyeret manusia menjadi semata-mata teknokratis. Umat manusi telah terbentuk sebagaimana produk industri itu sendiri, tak ada lagi keunikan kecuali kekuatan yang seragam. Sehingga tanpa sadar ataupun tidak, manusia akan kehilangan kemerdekaannya sendiri. Padahal itikad awal dari dikembangkannya ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sebagai pembebasan keterbatasan manusia.[14] Dengan kata lain, manusia telah terpacu oleh situasi mekanistik yang telah diciptakannya sendiri sehingga kehilangan kontak secara manusiawi dalam tata hubungan antar manusia dan alam sekitar. Oleh karena itu, kerusakan alam menjadi masalah yang sangat serius dalam abad modern.

Ternyata akal semata tidaklah cukup untuk menerjemahkan kehidupan ini. Ilmu pengetahuan yang diharapkan mampu menjadi sang juru selamat ternyata malah membawa permasalahan baru. Ancaman global warming misalnya, isu yang sedang hangat belakangan ini ternyata disebabkan oleh ulah manusia sendiri karena terlalu berlebihan dalam mengeksploitasi alam. Akibatnya alam menjadi kehilangan keseimbangan, kemudian kelangsungan hidup manusia sendiri yang terancam.

C.  PENUTUP

Setiap komunitas dalam setiap zaman memang memiliki kekhasannya masing-masing dalam pemikirannya. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika pada saat yang lain suatu pemikiran produk masa lalu dinilai salah dan harus disingkirkan. Setiap pemikiran memang memiliki kebenarannya sendiri yang bersifat parsial dan tentatif. Bahkan, konon kebenaran yang sifatnya objektif dan universal tidak akan pernah ada, kecuali hanya kesepakatan-kesepakatan umum semata. Tak terkecuali juga dengan deisme, yang memiliki kebenarannya sendiri dan di saat yang lain harus disalahkan.

Sehebat apapun produk pemikiran manusia, tidak mengkin semata-mata bebas dari nilai tetapi malah sebaliknya. Sifat produk pemikiran senantiasa dwipolar,  di satu sisi baik (membawa dampak positif) dan di sisi lain menjadi buruk (menimbulkan dampak negatif). Namun baik dan buruk pun merupakan produk pemikiran manusia. Dari proses dialektika yang terus-menerus inilah kemudian lahir konsep deisme, lalu konsep deisme pun menuai kritik dan lahirlah konsep-konsep pemikiran yang lain. Namun yang perlu digaris bawahi bahwa dengan pemikiran sejarah menjadi berkembang, manusia menjadi berkembang.

Dalam faktanya, paham deisme (bukan sebagai sebutan) senantiasa hidup sampai saat ini, hidup dalam setiap kemunitas keberagamaan yang mendambakan ide-ide segar dalam beragama. Selama para pemikir masih ada, paham deisme tak akan pernah mati dan bahkan akan selalu tampil segar dan meyakinkan meskipun pro dan kontra selalu menyertainya. Dan justeru dengan begitu berarti manusia hidup.

Kita akui bahwa paham ini telah membawa perubahan yang begitu besar terhadap pemikiran dunia, terutama terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern. Karena pemikiran, manusia menjadi berubah dan berkembang meski sebetulnya, manusia tidak bisa melepaskan agama begitu saja. Dan hadirnya gagasan deisme, dalam hal ini, telah membawa angin segar bagi para penganut agama yang sudah terlalu bosan dengan kejumudan doktrin-doktrin agama. Dalam konteksnya deisme adalah pahlawan yang membebaskan umat manusia dari penjara penjajahan halus yang dimunculkan oleh komunitas agama.[]


DAFTAR PUSTAKA

Feri Susanto, Thomas S. Kuhn: Reletivis Epistemologis?, Makalah Seksi Publikasi Senat Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta

Francisco Budi Hardiman, Kritik Idiologi: Menyingkap Kepentingan Pengetahuan Bersama Jurgen Habermas, Yogyakarta, Buku Baik Press, 2004

Haedar Nashir, Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1997

Immanuel Kant, Dasar-Dasar Metafisika Moral, terj. Robby H. Abror, Yogyakarta, Insight Reference, 2004

John Hick, Philosophy of Religion, New Jersey, Mentice Hall, 1990

Musthafa Kamal Pasha dkk, Pancasila Dalam Tinjauan Historis, Yuridis dan Filosofi. Yogyakarta, Citra Karsa Mandiri, 2003

Muhammad Nur Abdurrahman, Pemanfaatan Sains, HMNA online, 24 November 1991

Anthony A. Hoekema, Konsep al-Kitab Tentang Kekekalan Jiwa, Pustaloka Biblika online, http://www.sarapanpagi.org/post2060.html.2060, 17 Agustus 2007

Bambang Soebiawak, Deisme, http://www.rosenqueencompany.com, 3 Oktober 2007

Bustanuddin Agus, Bahaya Sekularisasi Pancasila, Republika online,  http://www.republika.co.id, 28 Juni 2006

Dhammawan, Konsep Tuhan dalam TAO, http://www.siutao.com, 3 Februari 2003

Voltaire, Ensiklopedi online Wikipedia, http://www.wikipedia.com, 26 September 2007



[1]Bambang Soebiawak, Deisme, http://www.rosenqueencompany.com, 3 Oktober 2007

[2]Lihat. Musthafa Kamal Pasha dkk, Pancasila Dalam Tinjauan Historis, Yuridis dan Filosofis, (Yogyakarta: Citra Karsa Mandiri, 2003), hlm. 163

[3]Beberapa lainnya menerima konsep ketuhanan Yang Maha Kuasa dimana hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat keduniawian. Demikian juga ada yang mempercayai adanya kehidupan sesudah kematian (tetapi kepercayaan ini sempat juga banyak ditolak oleh pengikut deisme saat itu). Dhammawan, Konsep…

[4]Voltaire dan Immanuel Kant, meskipun keduanya kerap dijuluki sebagai seorang deis akan tetapi mereka menyangkal dan malah mengatakan bahwa dirinya seorang theis (kristiani). Karena biar bagaimanapun, pada saat itu Deisme merupakan suatu ajaran yang menurut gereja, dianggap sesat. Dikutip dari Mircea Eliade dkk. (ed.), The Encyclopedia of Religion, Vol. 3, (London New York: Collier Macmillan Piblishers, 1993), hlm. 263

[5]Anthony A Hoekema, Konsep al-Kitab Tentang Kekekalan Jiwa, Pustaloka Biblika online, http://www.sarapanpagi.org/post2060.html.2060, 17 Agustus 2007

[6]Musthafa Kamal  Pasha dkk, Pancasila Dalam… hlm. 164

[7]Dhammawan, Konsep Tuhan dalam TAO, http://www.siutao.com, 3 Februari 2003

[8]Immanuel Kant mengatakan, “Saya menyatakan argumen ini sebagai tujuan kita: kebebasan adalah ide yang ditempatkan oleh semua makhluk rasional sebagai dasar bagi tindakan manusia…” Lihat. Immanuel Kant, Dasar-Dasar Metafisika Moral, Robby H. Abror (terj.), (Yogyakarta: Insight Reference, 2004), hlm. 110

[9]Ibid, hlm. 111

[10]Lihat. Francisco Budi Hardiman, Kritik Idiologi: Menyingkap Kepentingan Pengetahuan Bersama Jurgen Habermas, (Yogyakarta: Buku Baik, 2004), hal. 100

[11]Ilmu pengetahuan bebas nilai berarti bahwa ilmu pengetahuan terlepas dari campur tangan kekuasaan ekonomi, sosial, politik, agama maupun nilai-nilai lainnya. Kepentingan ilmu pengetahuan hanyalah de-facto, nyata-nyata untuk kepentingan objektif dan tidak memihak dalam menilai. Meskipun banyak filsuf kontemporer yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya tidak bisa bebas nilai. Karena si ilmuwan adalah manusia historis yang tidak bisa melepaskan diri dari berbagai nilai yang membentuk pikirannya. Dikutip dari Feri Susanto, Thomas S. Kuhn: Reletivis Epistemologis?, Makalah Seksi Publikasi Senat Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta

[12]Lihat. John Hick, Philosophy of Religion, (New Jersey: Mentice Hall, 1990), hlm. 106

[13]Achmad Charris Zubair (suatu pengantar), Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm. vii

[14]Apabila sains didefinisikan atau diartikan di atas paradigma filsafat positivisme (menurut pandangan deisme, agnostisisme dan atheisme), maka gunanya sains itu hanya satu, yakni untuk mensejahterakan ummat manusia, memelihara binatang dan tumbuh-tumbuhan, lingkungan hidup pada umumnya. Dikutip dari Muhammad Nur Abdurrahman, Pemanfaatan Sains, HMNA online, 24 November 1991

16 comments on “Peran Deisme,-

  1. Jendral Cabe Merah
    11 April 2011

    wah, ane susah bacanya ne, padahal artikel menarikkk..

    warnanya kontras ma backgroun boss..
    SEMOGA LAIN WAKTU BS BERJUMPA

  2. Ngut's
    14 April 2011

    Ok, thanks. nanti saya edit ulang warna font-nya

  3. Dewi Sartika
    15 Desember 2011

    ma kasih bxk atas tulisannya , sungguh sangat membantu saya dalam memahami makna dan seluk-beluk deisme tersebut

  4. Ngut's
    16 Desember 2011

    Siiplah klo ada yg turut senang…..

  5. office shoes
    31 Maret 2012

    Have you ever considered about adding a little bit more than just your articles? I mean, what you say is valuable and everything. Nevertheless imagine if you added some great photos or video clips to give your posts more, “pop”! Your content is excellent but with images and clips, this blog could definitely be one of the best in its field. Amazing blog!

  6. Hello there! Do you use Twitter? I’d like to follow you if that would be ok. I’m undoubtedly enjoying your blog and look forward to new updates.

  7. make online money
    3 April 2012

    Good day! This post could not be written any better! Reading through this post reminds me of my good old room mate! He always kept chatting about this. I will forward this page to him. Fairly certain he will have a good read. Many thanks for sharing!

  8. make online money
    3 April 2012

    Greetings! I’ve been following your site for a long time now and finally got the bravery to go ahead and give you a shout out from Houston Tx! Just wanted to tell you keep up the great job!

  9. earn money online
    4 April 2012

    Appreciating the time and energy you put into your site and detailed information you provide. It’s good to come across a blog every once in a while that isn’t the same old rehashed information. Excellent read! I’ve saved your site and I’m including your RSS feeds to my Google account.

  10. Hello just wanted to give you a quick heads up. The words in your article seem to be running off the screen in Safari. I’m not sure if this is a formatting issue or something to do with web browser compatibility but I thought I’d post to let you know. The style and design look great though! Hope you get the problem fixed soon. Thanks

  11. gain money fast
    8 April 2012

    We absolutely love your blog and find a lot of your post’s to be just what I’m looking for. Do you offer guest writers to write content for you? I wouldn’t mind writing a post or elaborating on many of the subjects you write regarding here. Again, awesome weblog!

  12. Ngut's
    10 April 2012

    Oh Sorry, i don’t use Twitter. U can find me in fb http://www.facebook.com/prof.nguts

  13. mantan Umat Beragama
    11 Juni 2012

    sadar ! sadar! katanya agama cinta damai,tapi perang semakin ramai hahahaha

    artikel bagus nih hehe

  14. Ngut's
    11 Juni 2012

    Wah,… itu harus dibedakan antara agama dan kepentingan di balik agama. Harap dibedakan…

  15. dubai metro route
    7 Juli 2013

    Is actually indeed there per way to report
    an online site to breaking copyright of posts
    as well as photos?

  16. Switzerland Attractions
    8 September 2013

    therefore basically, I would like to across;oad one
    of people programs it creates ur computer mouse pointer cool off, still i you should not need it to screw upward our
    pc.. . what exactly is a someone?.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 November 2009 by in Teologi.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.