Ngut's Inside

Connected Your Mind and Heart

Dekonstruksi Derrida,-


DEKONSTRUKSI DERRIDA

(Sebuah Filsafat Anti Metafisika)

PENDAHULUAN

“Manusia berpikir, Tuhan pun tertawa” itulah sebuah parodi dan munkin ironi. Seseorang berpikir tak harus mencari kebenaran, melainkan mendengan Tuhan tertawa atau menertawakan diri. Abad post-modern barat –barangkali Indonesia saat ini masih dalam abad kegelapan– bukanlah masa yang cocok untuk rasionalitas yang tertalu serius memburu kebenaran. Kini kebenaran sudah tidak ada dalam arti tunggal dan jelas, namun kebenaran ada di mana-mana dan selalu berubah sesuai dengan seleranya, selera sang penafsir. Itulah setidaknya yang menjadi wacana dalam post-modernisme seperti apa yang terekam dalam diskursus hermeneutika.

Hermeneutika memahami bahwa realitas adalah teks. Untuk memahami kebenaran seseorang harus mampu menafsirkan teks terlebih dahulu. Kebenaran bukanlah sesuatu yang dapat hadir dengan sendirinya, melainkan harus dihadirkan. Tapi mampukah dengan segenap kemampuannya, manusia menggapai kebenaran? Entahlah, barangkali kebenaran adalah proses itu sendiri, proses untuk menggapainya.

Adalah Jecques el-Biar Derrida, seorang filsuf Prancis yang dikenal telah mendekonstruksi kebenaran, kebenaran adalah teks. Baginya, semua hal adalah teks “di luar teks tidak ada apa-apa.” Barangkali, filsafat Derrida bukanlah filsafat dalam pengertian yang biasa. Derrida memilih menjadikan filsafatnya sebagai sebuah penafsiran (interpretasi).

Derrida menyuguhkan sebuah pembacaan secara radikal terhadap tek-teks filsafat dan kemudian mempermainkannya. Ia membuka sebuah undang-undang untuk menggugat klaim filsafat sebagai satu-satunya penjelas bagi segala-galanya. Kata “dekonstruksi” merupakan kata yang pertama kali keluar melalui mulutnya. Dan konon, pembacaannya tidaklah mengenal kata akhir. Ia selalu memulai pembacaannya dengan pertanyaan dan mengakhirinya dengan pertanyaan. [1]

PEMBAHASAN

Jacques el-Biar Derrida adalah seorang keturunan Yahudi. Ia lahir pada 15 Juli 1930 di El-Biar salah satu daerah terpencil di wilayah Aljazair. Pada tahun 1949 ia pindah ke paris untuk melanjutkan studinya. Setelah dua tahun di sana, ia kembali ke Aljazair untuk memenuhi kewajiban militernya untuk mengajar bahasa Perancis dan Inggris kepada anak-anak tentara di tanah airnya. Sejak 1952 ia resmi belajar di Ecole Normal Supreriure (ENS) , sekolah elite yang dikelola oleh M. Faucault, L. Althusser dan sejumlah filsuf garda depan Prancis. Setelah lulus, ia belajar di Husserl Archive, salah satu pusat kajian Fenomenologi di Louvain, Prancis. Dan setelah mendapatkan gelar kesarjanaannya, ia diberi tanggung jawab untuk mengajar di sana. Pada tahun 1960 ia dipanggil untuk mengajar di Universitas Sorbonne. Lalu empat tahun berikutnya, ia dipanggil untuk mengajar di ENS.[2]

Masa-masa di ENS merupakan masa-masa yang tidak terlalu menyibukkan sehingga pada tahun 1966 ia sempat untuk mempersiapkan ceramah legendarisnya di Universitas John Hopkins dengan tajuk ”Structure, Sign and Play in the Discourse of the Human Sciences”. Sejak itulah jadwal acaranya bertambah padat; setiap tahun ia secara reguler harus menjadi tamu di beberapa universitas terkemuka di Amerika. Dan dari situlah karier filsafatnya di mulai. [3]

Pada tahun 1967 terbit tiga karya besarnya “of Gramatology, Writing and differences dan Speech and Phenomena. Di sana ia memulai proyek filsafatnya yang berbasis pada tulisan, sebagai reaksi terhadap logosentrisme yang mendominasi metafisika Barat waktu itu.

Derrida secara terus terang mengakui bahwa pemikirannya sangat berhutang budi pada M. Heidegger[4], F. Nietzsche, Adorno, Levinas, S. Freud dan Saussure. Hal ini tampak dalam esai-esai dan cara pembacaannya terhadap teks-teks filsafat. Baginya, Heidegger merupakan orang pertama yang mempertanyakan ontologi dan memulai diskusinya tentang krisis metafisika. Hal serupa diwarisi juga oleh Nietzsche yang telah membebaskan metafisika dari permainan arogansinya. Dan bagi Derrida, Adorno, Levinas dan Freud merupakan pemberi nuansa baru terhadap diskusi-diskusi kefilsafatan yang sekaligus telah menumbangkan klaim modernitas dan emansipasi ala Aufklarung.

1.  Metafisika Kehadiran

Pada abda ke-20, filsafat Barat berkembang pesat seiring dengan perkembangan yeng terjadi pada masyarakat. Banyak persoalan yang muncul seiring dengan perkembangannya; kata-kata memungkinkan untuk menjelaskan segala hal, kata memiliki kekuatan rasional untuk membenarkan dunia. Anggapan tersebut oleh Derrida disebut logosentrisme. Logosentrisme merupakan suatu rasionalisme yang menjelaskan bahwa sesuatu dapat dihadirkan lewat bahasa atau teks. Dari situ lalu muncul istilah “metafisika kehadiran.”

Baik Logosentrisme maupun metafisika kehadiran mendasarkan diri pada logika yang dikembangkan oleh Aristoteles. Selama berabad-abad prinsip logika tersebut telah menjadi tradisi filsafat Barat. Akibatnya, manusia cenderung berpikir dikotomis. Segala sesuatu harus jelas posisinya sebagai hitam dan putih. Dan itulah ciri logosentrisme, tegas Derrida.

Pada suatu titik tertentu, muncul suatu kesadaran untuk mempertanyakan ulang hal-hal yang telah dicapai filsafat Barat. Secara radikal, ia mempertanyakan gagasan-gagasan mengenai kebenaran, pengetahuan, prosedur, kehadiran dan segala otoritas yang mendasari filsafat Barat.[5] Upaya Derrida tersebut lebih merupakan sebagai upaya untuk menafsirkan ulang tradisi filsafat Barat, yang Logosentrisme selalu mendahului kehadiran.

Baginya, kehadiran bukanlah sesuatu yang secara independen mendahului tulisan atau tuturan kita namun sebaliknya, kahadiran selalu hadir bersamaan dengan tulisan atau tuturan kita (disampaikan melalui tuturan/tulisan atau tanda yang dipakai seseorang). Setiap tuturan, tulisan adalah tanda dan setiap tanda adalah teks. Setiap teks selalu tidak mungkin berdiri sendiri melainkan berkelit kelindan dengan teks-teks lain. Dengan demikian setiap teks memiliki maknanya sendiri-sendiri sesuai dengan situasi dan kondisinya.

Dengan tegas Derrida menolak adanya makna transenden dari teks, tidak ada makna yang terlepas dari teks. Untuk menjelaskan suatu kata, seseorang selalu membutuhkan kata-kata yang lain dan yang ada hanya kata-kata. Dengan kata lain; tidak ada konsep yang berada di luar dan melampaui kata-kata.[6]

Logosentrisme yang hendak dibedah Derrida melalui pembacaannya trhadap teks-teks merupakan sebuah sistem yang menjadi sentral dari narasi metafisik post-modernisme. Untuk membedah Logosentrisme, kita harus melacak kembali sejarah metafisika Barat secara umum. Dalam hal ini Derrida sudah tentu berhutang budi pada Heidegger yang telah melakukan kritik terhadap metafisika Barat, yang secara sistematis mempersoalkan sejarah ontologi.

Upaya Heidegger dalam menyibak logosentrisme memang patut dikagumi. Ia tidak hanya berhasil mempersoalkan logika Cartesian yang terlalu memusatkan pada cogito, melainkan juga mampu mempertemukan kembali filsafat Barat dengan ontologi. Selain itu, Heidegger juga mampu memposisikan kembali matefisika yang selama ini telah dimandulkan oleh dominasi rasio. Dan menurut Derrida, proyek “destruksi” yang dimulai Heidegger dengan mempersoalkan status ontos dalam metafisika Barat belum sepenuhnya berhasil. Heidegger sendiri ternyata masih dibayang-bayangi oleh logosentrisme yang hendak dikritiknya.[7]

2.  Dari Metafisika ke Hermeneutika

Dari pembacaannya terhadap Heidegger, Derrida kemudian melangkah labih jauh, yaitu dengan menggugat ontologi itu sendiri. Tanda-tanda berakhirnya metafisika sudah nampak semenjak konsep destruksi yang digagas Heidegger diambil alih Derrida dengan konsep baru yang lebih radikal: Dekonstruksi. Dekonstruksi merupakan fase yang sama sekali berbeda dengan destruksinya Heidegger. Jika destruksi digagas untuk mengkritik bangunan epistemologi dan masih menyisakan puing-puing untuk dibangun kembali, maka dekonstruksi adalah sebaliknya. Dekonstruksi tidak berhenti hanya sampai pada mengkritik, namun merombak dan mencari kontradiksi-kontradiksi dalam ssuatu bangunan dan kemudian membiarkannya centang-perenang dan tidak memungkinkan untuk dibangunnya kembali.

Derrida menyadari bahwa konsep-konsep yang menjembatani filsafat dalam narasi tidaklah berdiri sendiri, melainkan berkelit kelindan dengan konsep yang lain, dengan teks yang lain. Narasi muncul dari teks dan teks secara langsung berurusan dengan bahasa. Ia kemudian mencermati bagaimana teks-teks menuturkan wacana dan menciptakan klaim-klaimnya berdasarkan struktur atau tata pikiran yang dibangun di dalamnya. Dan Derrida kemudian mencari strategi pembentukan makna di balik teks-teks tersebut, yang antara lain dengan mencari sistem-sistem perlawanan yang tersembunyi atau didiamkan oleh pengarang. Derrida memegang asumsi bahwa sesungguhnya filsafat adalah tulisan.

Dalam pemikirannya, filsafat selama ini selalu berambisi untuk melepaskan diri dari statusnya sebagai tulisan. Ia ingin menghadirkan bahwa tulisan adalah penyingkap realitas, tuturan mampu menyingkap kebenaran. Dan karena itulah peranan logika dimainkan.  Namun sayangnya, upaya tersebut selalu gagal. Kecurigaan Derrida selalu menyiratkan bahwasanya filsafat pada dasarnya ingin menjaring segala persoalan ke dalam metafisis universal (adanya suatu rumusan universal yang mampu menuntaskan segala-galanya). Atau Derrida menyebutnya dengan Logosentrisme.[8]

Derrida menyadarkan kita bahwa sekarang sudah bukan lagi saatnya kita harus berbicara atas nama filsafat sebagai suatu sistem yanb tunggal atau satu-satunya yang paling benar. Lalu ia menawarkan untuk berpikir “tanpa konsep tentang kehadiran.” Semua itu dalam rangka merombak semua sistem filsafat yang telah didominasi oleh logosentrisme. Barangkali, itulah semangat dekonstruksi.

Dekonstruksi merupakan tantangan terhadap totalitas makna, penafsiran atau pengetahuan yang terlembagakan dalam sejarah, institusi sosial, kultur dan berbagai sistem aturan yang lainnya. Dari sudut pandang ini, dekonstruksi dapat dipandang sebagai “hermeneutika radikal”. Ia menyajikan tafsir tetapi tidak pernah berpretensi menjadikan tafsir sebagai satu-satunya penjelas terhadap semua hal.[9]

Tafsir sebuah dekonstruksi berasal dari kepekaan adanya perbedaan yang mungkin hadir, entah kapan, dari suatu benda, suatu pengalaman ataupun ingatan. Perbedaan tersebut barangkali terselip, tersembunyi di balik lipatan-lipatan waktu dan karenanya tak tertangkap oleh indera. Oleh karena itu, sebuah penafsiran dekonstruksi  tidak memiliki titik jangkau yang dapat diramalkan oleh rasio maupun indera.

Walau demikian, dekonstruksi bukanlah sebuah ajakan untuk bersikap nihilistik terhadap makna dan kebenaran. Dekonstruksi melampaui nihilisme naif yang tidak mempercayai adanya kebenaran yang dapat dipegang. Demikian pula, dekonstruksi juga melampaui dogmatisme tradisional yang mempercayai hanya ada satu kebenaran sejati. Namun dekonstruksi lebih merupakan sebuah rangsangan untuk tidak melihat kebenaran yang kita yakini sebagai satu-satunya kebenaran. Ada banyak kebenaran, bahkan terlalu banyak dan kita boleh memilih berbagai kebenaran sejauh yang kita butuhkan.[10]

Menurut Derrida, dekonstruksi lebih merupakan strategi pembacaan dari pada sebuah metode yang memiliki sebuah rancangan jelas dan sistematis. Proses ini akan terus berlanjut karena penundaan dalam dekonstruksi tidak mengarah menuju satu telos tertentu, melainkan menyebar ke banyak arah. Pemahaman penafsir selalu dibentuk oleh sejarah dan sebuah penafsiran merupakan efek dari dialektika dengan sejarah. Dalam dekonstruksi, makna atau sejarah dilampaui. Makna bukanlah suatu institusi yang stabil dari teks. Dekonstruksi senantiasa mengajak penafsir untuk melampaui institusi yang membentuk dirinya dan pengalaman eksistensialnya dengan teks.[11]

Dalam hermeneutika radikal, ketidakmungkinan untuk mencapai makna ditebus dengan meninggalkan pijakan dan terjun dalam ambiguitas, perubahan terus-menerus. Dekonstruksi meradikalkan permainan makna sehingga menuntut sang penafsir untuk selalu memperbaiki tafsirannya setiap saat dan memulai tafsirannya dengan semangat baru, sudut pandang baru, strategi baru dan semua hal dengan serba baru.

Derrida mengakui bahwa dekonstruksi akan tampak mencemaskan bagi sang pemburu makna. Impian akan proses yang mengatasi perubahan dan kontingensi absolut ini terus menghantui proses penulisan. Nyatanya, tak ada penafsiran yang terbebas dari nostalgia akan kehadiran yang hilang. Sebuah proses penafsiran akan terus diliputi hasrat akan kembalinya kehadiran. Namun, kita harus membiarkan impian itu tetap hadir karena dengan demikian proses penulisa itu terjadi. Pasti, selalu saja ada yang kurang dan kekurangan itu harus ditebus dengan penafsiran dan penafsiran yang baru.

Terminal akhir dari dekonstruksi adalah sans avoir –tidak memiliki. Pada moment ini kebenaran didevaluasi dari klaim otoritatifnya. Kebenaran tidak lagi berada di pangkuan pengarang, melainkan bergerak menyebar ke penafsiran-penafsiran yang lain yang beda. Tak ada lagi otoritas pengarang transendental yang memiliki kuasa mutlak atas teks. Teks tidak lagi dibentuk oleh pengarangnya, melainkan memiliki otonominya sendiri. Otonominya bergerak seiring dengan dinamika penafsir dan pembaca. Tak ada lagi kerja kepengarangan, yang ada hanylah pengarang yang mati dan bunuh diri, atau bermetamorfosis menjadi penafsir (homo reader).[12]

PENUTUP

Dalam pernmainannya yang frontal tersebut, dekonstruksi harus berangkat dari bahasa dan mempermainkan bahasa itu sendiri. Menurut M. Fayadl, Derrida tidak pernah dengan serius menentukan posisinya dengan keluar dari bahasa dan membuat bahasa baru. Derrida selalu berfilsafat dari dalam. Ia mengoyak-koyak relasi-relasi kuasa dalam bahasa. Ia mengakui bahwa filsafatnya adalah pinggiran. Ia membaca terks dari marjin yang bukan merupakan logika formal dari dari teks itu sendiri. Namun dari pinggiran tersebut, lambat laun ia bergerak menuju pusat dan mendekonstruksinya.

Setidaknya dekonstruksi merupakan pembelaan terhadap the other (makna yang lain, yang tertindas). Semangatnya untuk menjunjung tinggi martabat perbedaan makna perlu kita hargai. Sekali lagi, keberadaan makna akan menjadi lebih bermakna hanya dengan adanya makna-makna lain yang mengitarinya.

Dengan kata lain, sebuah dekonstruksi adalah gerak perjalanan menuju hidup itu sendiri. Hidup yang selalu menuntut kita, dengan rendah hati untuk mengakui kebenaran sebagai ke(tak)mungkinan. Kita hanya bisa berharap mampu menemukan sesuatu yang berharga dalam perjalanan ini tanpa pernah tahu apakah kita benar-benar memperoleh apa yang kita inginkan. Hidup ini merupakan sebuah perjalanan panjang. Dan Derrida mengajarkan pada kita bahwa hidup adalah petualangan tanpa akhir dan menuju kebenaran.


DAFTAR PUSTAKA

Steven Best dan Douglas Kellner, Teori Postmoren: Interogasi Kritis, ­terj. Indah Rohmani, Malang: Boyan, 2003

Jean Grodin, Sejarah Hermeneutika: Dari Plato Sampai Gadamer, terj. Add Qodir Sholeh, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2007

K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Prancis, Jakarta: Gramedia, 2006

Majalah Basis, edisi November-Desember 2005

Muhammad al-Fayadl, Derrida, Yogyakarta: LkiS, 2006

Melampaui Postrukturalisme: Kritik Filsafat, http://www.ajidadim.wordpress.com, 22 Januari 2008

Saidiman. Hermeneutika Ontologi Eksistensial Heidegger.http://www.wordpress.com. 8 Juni 2007


[1]Lihat K. Bertens, Sejarah Filsafat Barat Prancis, (Jakarta: Gramedia, 2006), hal. 363

[2]Muhammad al-Fayadl, Derrida, (Yogyakarta: LkiS, 2006), hal. 2

[3] Ibid. hal. 3

[4]Derrida menuturkan,“Segala sesuatu yang saya usahakan ini tidak mungkin tanpa lingkup keterbukaan yang diciptakan oleh pemikiran Heidegger,” katanya dalam sebuah wawancara. Lihat. K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Prancis, (Jakarta: Gramedia, 2006), hal. 364

[5]Majalah Basis, edisi November-Desember 2005, hal.40

[6]Majalah Basis…., hal. 18

[7]Muhammad al-Fayadl, Derrida…. , hal. 19

[8]Konsep “differance”-nya Derrida yang membawa konsekuensi lebih serius terhadap metafisika barat. Pemikiran metafisika Barat adalah logosentrisme dan fonosentrisme. Pada logosentrisme, pemikiran kita dibawa ke seberang dunia sana, dunia ideal, sebagai prinsip rasional untuk mengantisipasi ke-khaos-an dunia pengalaman. Dengan logos ini, ruang, waktu dan peristiwa bergerak secara linier, dengan demikian maka logos adalah konsep yang mampu mentotalitaskan segala sesuatu. Dengan prinsip ini, siapapun dapat menguasai baik ruang, waktu dan peristiwa. Pada fonosentrisme adalah anggapan tentang ekspresi murni bahasa dari kedalaman diri kita. Ketika budaya muncul, bahasa bunyi yang telah dikorupsi oleh bahasa tulisan. Menurut Derrida, pemahaman logos dan phonos inilah yang menjadi pondasi peradaban barat. Baik logosentrisme dan fonosentrisme sebagai konsep murni metafisika barat, bagi Derrida adalah mistifikasi, yang harus didekonstruksi, dilakukan demistifikasi. Lihat. http://ajidedim.wordpress.com, 22 Januari 2008

[9]Ibid., hal. 168

[10]Steven B. dan D. Kellner, Teori Postmoren: Interogasi Kritis, ­terj. Indah Rohmani, (Malang: Boyan, 2003), hal. 299

[11]Jean Grodin, Sejarah Hermeneutika: Dari Plato Sampai Gadamer, terj. Add Qodir Sholeh, (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2007), hal 253

[12] Muhammad al-Fayadl, Derrida …., hal. 167

One comment on “Dekonstruksi Derrida,-

  1. fitri
    11 Mei 2012

    makasi ya kang berguna beud

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 November 2009 by in Metafisika.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.