Pendidikan Menurut Mahatma Gandhi
PENGANTAR
Setiap anak manusia yang terlahir ke dunia, untuk dapat mengarungi kehidupnya dengan wajar, membutuhkan pendidikan. Sederhanya, setiap anak pasti membutuhkan latihan-latihan tertentu untuk sekedar dapat berjalan, membutuhkan latihan-latihan tertentu pula untuk dapat mengenali lingkungn tempat tinggalnya. Seluruh rangkaian latihan-latihan itulah yang disebut pendididkan. Oleh sebab itulah pendidikan menjadi sangat penting bagi kehidupan suatu manusia, terlebih bagi manusia yang hidup di era globalisasi.
Semenjak awal konsep mengenai pendidikan telah banyak dibicarakan oleh banyak tokoh dan sekaligus telah diaplikasikan, namun uniknya hingga sekarang, pendidikan masih menyisakan masalah-masalah yang perlu dikaji ulang secara serius. Uniknya lagi, pendidikan yang berlangsung di berbagai tempat dalam kurun waktu tertentu memiliki permasalahan tersendiri. Di negara kita sendiri (Indonesia) misalnya, kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang bermunculan di berbagai media, pelakunya ialah “orang-orang terdidik”. Seolah masyarakat telah sepakat untuk meyakini bahwa fasilitas istimewa dari negara hanya dapat dinikmati oleh mereka yang dapat mengaksesnya, mereka itulah “orang-orang terdidik”. Dengan demikian pendididkan yang awalnya memiliki tujuan mulia, kini mulai dipertanyakan ulang.
Seiring dengan itu, penulis pun hendak melontarkan pertanyaan sederhana: pendidikan semacam apakah yang dibutuhkan oleh manusia? Setelah direnungkan, ternyata pertanyaan sesingkat itu akan memicu pembahasan yang tidak sederhana, secarik makalah semacam ini bukan media yang tepat untuk menjawab pertanyaan sesingkat itu. Namun penulis tidaklah berkecil hati, mengingat bahwa perjalanan panjang ribuan mil pasti selalu diawali dengan selangkah demi selangkah. Bila problematika pendidikan yang, seolah tak terbatas, dianalogikan dengan perjalanan panjang bermil-mil maka kehadiran makalah ini bagaikan sebuah langkah kecil di dalamnya.
Lebih lanjut, dalam pemaparan makalah singkat ini penulis hendak menghadirkan sebuah gagasan pendidikan dari tokoh pergerakan kemerdekaan India, yakni Mahatma Gandhi. Dalam autobiografinya “Semua Manusia Bersaudara” , Gandhi banyak mengkritik pendidikan konvensional yang berlaku saat itu dan sekaligus menyampaikan pendapatnya mengenai pendidikan yang ideal. Sebagai bagian anggota masyarakat yang hidup di era penjajahan, Gandhi berhasil tampil di garis terdepan sekaligus berjuang bersama masyarakat yang lain untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Seting semacam itulah yang menjadi latar belakang atas semua gagasanya, terutama gagasannya tentang pendididkan.
BIOGRAFI SINGKAT MAHATMA GANDHI
Menyebut nama Gandhi, artinya kita sedang menyebut sesosok pribadi sederhana dan unik.1 Sepak terjangnya memang tidak dapat dipisahkan dari tempat kelahirannya, yakni India. Lahir (2 Oktober 1869 di Porbandar) dan matinya (30 Januari 1948 di New Delhi)2 untuk sesuatu yang dicintainya: India. Gandhi adalah salah seorang yang paling penting yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India, seorang aktivis yang tidak mau menggunakan kekerasan (Ahimsa), yang mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai.3
Sebagian sejarawan mencatat bahwa dari sekian banyak kisah perjuangan dan revolusi, hampir sebagian besarnya merupakan aksi massa. Suatu aksi yang melibatkan kumpulan massa dalam satu tindakan fisik sebagai bargaining position dengan pihak lawan. Sebagian besarnya adalah aksi-aksi massa yang turun ke jalan sebagai bentuk show of force dalam suatu tahapan perjuangan. Namun berbeda dengan konsep perjuangan yang digagas oleh Gandhi. Ide-ide gagasannya merupakan semacam seruan tentang Ahimsa (nir-kekerasan), Satyagraha (keteguhan berpegang pada kebenaran) dan Swadeshi (gerakan cinta produksi dalam negeri). Seruan-seruan demikian bisa dikatakan sangat jauh dengan konsep perjuangan aksi massa sebagaimana lazimnya. Memang bagi banyak orang, gagasan semacam itu justru tidak populis dan tidak sesuai dengan tujuan perjuangan yaitu tercapainya swaraj (kemerdekaan).4
Memulai perjuangannya semenjak persentuhannya dengan rakyat India di Afrika Selatan, secara perlahan Gandhi mengokohkan diri sebagai salah satu tokoh perjuangan India yang cukup besar. Saat itu dia melihat segala bentuk penindasan yang dialami oleh warga India di Afrika Selatan. Datang sebagai seorang pengacara, seorang Gandhi melakukan berbagai hal yang semakin memposisikan Gandhi sebagai tokoh sentral perjuangan. Begitupun saat dia telah kembali tinggal di India. Mulai penolakannya terhadap serangkaian UU ataupun RUU buatan Inggris yang merugikan dan bahkan menindas warga India, perlawanannya membela kaum petani miskin India yang dieksploitasi habis-habisan oleh para tuan tanah dan sederet kasus-kasus lainnya, semakin memposisikan Gandhi sebagai salah satu tokoh sentral India. Tahun 1920, tercatat bahwa ketokohan Gandhi di bidang politik sangat dominan. Memang sebelumnya belum pernah ada pemimpin politik India yang memiliki pengaruh sebesar Gandhi. Berbagai pembaruan dilakukannya antara lain mengubah Kongres Nasional India (India National Congress) yang tadinya sebuah partai kaum elit dan eksklusif kini menjadi partai massa. Dukungan pada Gandhi dalam wadah ini mengakar sampai ke pelosok desa dan seluruh penjuru perkotaan India. Gandhi dengan lugas dan sederhana berpesan, “Bukanlah kekuatan senjata Bangsa Inggris, tetapi ketundukan tanpa syarat bangsa India-lah yang menyebabkan tanah air ini tetap berada dalam perbudakan bangsa asing.”5
Gandhi meyakini bahwa metode yang diterapkan dalam perjuangannya terkait erat dengan tujuan yang ingin dicapai, yakni Swaraj (kemerdekaan), Tujuan bersama seluruh masyarakat India tersebut, dalam hal ini mengandung makna sebagai truth (kebenaran), yaitu suatu kebenaran obyektif, kebenaran kolektif yang akan dicapai sebagai cita-cita bersama. Hal ini tentu tidak akan pernah terwujud dan tercapai melalui metode-metode yang senyatanya bertentangan dengan semangat truth tersebut, yaitu perpecahan antara umat Hindu dan umat Islam sebagai sesama waga India yang terikat dalam satu kesatuan bangsa. Perpecahan ini dimaknai Gandhi sebagai bentuk non-truth (ketidakbenaran) yang tentu saja bertentangan samangat truth dalam swaraj, yang secara otomatis membuat swaraj sebagai cita-cita bersama tidak akan pernah terwujud.6
Memang, jika dikaji riwayat hidupnya, pada mula Gandhi bukanlah orang istimewa. Seorang pemuda yang memiliki pembawaan canggung, pemalu, dan tidak menonjol dalam pelajaran di sekolah. Sepertinya tak ada bakat khusus yang melekat pada dirinya. Sampai ketika pertama menjadi pengacara di India, setelah mengantongi gelar bachelor dari Inggris, Gandhi juga mengalami banyak kegagalan. Baru setelah menetap di Afrika Selatan untuk memperjuangkan hak-hak warga India di sana, tampaknya Gandhi berhasil menempa dirinya menjadi pribadi yang tangguh dan berkomitmen penuh terhadap nilai-nilai kebenaran yang dianutnya. Dengan tekun belajar, rajin introspeksi diri disertai disiplin tinggi, Gandhi mampu mengangkat dirinya sebagai seorang publik figur yang berusaha menyatukan pikiran dengan perbuatannya.
Sebagaimana tertuang dalam autobiografinya, tampaknya Gandhi adalah sosok manusia paradoksal, di satu pihak lemah lembut secara fisik dan pantang kekerasan, tetapi di pihal lain pantang menyerah dan berani mengambil resiko masuk-keluar penjara. Gandhi sering merenung, menuangkan pikirannya dalam tulisan, namun selain itu ia adalah manusia yang penuh dengan tindakan tanpa banyak retorika. Gandhi seorang idealis, tetapi pada saat bersamaan mampu memperhitungkan medan untuk mencapai tujuan idealisme.7
Suatu kehidupan yang tidak mempunyai akar, yang tidak memiliki latar belakang mendalam, adalah suatu kehidupan yang dangkal. Begitulah kehidupan Gandhi yang berakar dalam tradisi Hindhu yang amat mementingkan pencarian kebenaran secara sungguh-sungguh, menghormati kehidupan, bercita-cita membebaskan diri dari cengkeraman hawa nafsu untuk mencapai moksa (pencerahan). Sepanjang hidup, Gandhi senantiasa berjuang sekuat jiwa-raganya untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran yang yakininya. Gandhi menambahkan bahwa semua kegiatan yang dilakukannya bersumber pada cinta kasihnya yang kekal kepada kemanusiaan. Gandhi tidak mengenal perbedaan antara kaum keluarga dan orang luar, orang sebangsa dan orang asing, berkulit putih maupun berwarna. Lebih lanjut menurut keyakinannya, semua anak manusia bersaudara dan janganlah manusia yang satu merasa asing dengan lainnya. Kebahagiaan semua manusia ialah tujuan hidupnya, juga menjadi tujuan hidup semua manusia.8
PENDIDIKAN MENURUT GANDHI
“Yang saya maksudkan dengan pendidikan ialah menampilkan sifat-sifat terbaik secara menyeluruh yang ada dalam kepribadian seseorang anak atau manusia –yaitu tubuh, akal, dan jiwa. Kepandaian membaca dan menulis bukan merupakan tujuan akhir, bahkan bukan juga tujuan awal dari pendidikan. Melek aksara hanyalah merupakan salah satu sarana untuk memungkinkan pendididkan seorang pria atau wanita. Kepandaian membaca dan menulis, bukan merupakan pendidikan. Maka saya lebih setuju bila pendidikan seorang anak dinilai dengan mengajar suatu cabang kerajinan tangan dan memungkinkan murid itu menghasilkan barang dari saat awal pendidikannya,” Demikian secara Gandhi mengungkapkan pandangannya tentang pendidikan dalam autobiografinya.9
Sebagai tokoh pergerakan nasional India saat itu, Gandhi menekankan bahwa setiap manusia harus mandiri. Pasalnya hanya dengan kemandirian itu masyarakat India dapat melepaskan diri dari intervensi penjajah Inggris. Gandhi dikenal sangat konsisten pendapatnya, mengeni kemandirian ini misalnya, Gandhi mencontohkannya dengan selalu mencuci serta menggosok pakaiannya sendiri, memperbaiki septunya sendiri, bahkan sampai mencukur rambut kepalanya seorang sendiri. Kemandirian yang dicontohkan Gandhi rupanya sangat berpengaruh besar, tidak hanya bagi masyarakat India tetapi juga bagi masyarakat dunia. Dengan kemandirian, masyarakat India tidak hanya berhasil mengusir penjajah Inggris dari negerinya, kini India menjadi salah satu negara Asia yang diperhitungkan dalam kancah dunia.
Selanjutnya Gandhi menegaskan bahwa Pendididkan yang sempurna ialah pendidikan yang mampu membangkitkan sifat-sifat diri (bakat alamiah) kita sendiri yang terbaik. Gandhi menegaskan bahwa pendidikan intelek yang sejati, hanya dapat dicapai dengan latihan anggota-anggota tubuh manusia, misalnya: tangan, kaki, mata, telinga, hidung, dan sebagainya.10 Pernyataan tersebut tampak sangat serasi bila disandingkan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 yang menurutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.11
Secara tegas Gandhi mengritik, jika pembinaan akal dan tubuh tidak dilakukan seiring dengan membangkitkan jiwa12, maka pengimbangan akal dan tubuh akan terbukti menjadi berat sebelah. Maka pengembangan akal budi yang tepat dan menyeluruh hanya dapat dilaksanakan bila hal itu berlangsung seiring dengan pendidikan anggota-anggota tubuh dan jiwa anak. Dengan kata lain, Gandhi sangat menghendaki adanya keseimbangan antara akal dan hati. Pendidikan yang hanya mengandalkan optimlisasi akal, dengan mengesampingkan peran hati, maka pendidikan akan melahirkan pribadi-pribadi yang cerdas tapi bermental kriminal. Dan sebaliknya, pendidikan yang mengutamakan hati tapi tidak mengembangkan akal, akan melahirkan manusia-manusia yang lemah dan mudah dijajah.
Konsep ahimsa (anti kekerasan) yang dijadikan sebagai metode utama dalam perjuangan Gandhi misalnya, tidak dilakukan atas dasar ketidakberdayaan melainkan sebuah keputusan sadar bahwa kekerasan tidak bisa dilawan dengan kekerasan. Kekerasan baru akan selesai bila disandingkan dengan anti tesisnya, yakni nir-kekerasan. Keputusan untuk menempuh jalan damai semacam itu bukan suatu keputusan yang mudah sebab harus dibarengi dengan cara-cara cerdas, terutama bila bahaya kekerasan sedang mengancam diri sendiri.
Untuk mendukung gagasannya tentang pengembangan bakat alamiah tersebut, Gandhi juga tidak melupakan peran budaya setempat. Bahkan Gandhi sampai menegaskan bahwa mempelajari Bahasa Gujarati serta seluruh aspek budaya India jauh lebih penting daripada belajar Bahasa dan budaya Inggris. Sebuah bangsa akan menjadi maju bukan dengan mempelajari budaya asing, melainkan sebaliknya, mengemangkan budaya sendiri.13
Selain itu setiap lembaga pendidikan pun diupayakan untuk melakukan swasembada alias tidak menggantungkan diri pada pemerintah. Hal tersebut bertujuan supaya kegiatan pendidikan tidak diintervensi oleh pemerintah, sekaligus akan leluasa bila melakukan kritik terhadap pemerintah. Lembaga pendididkan pun berkewajiban mendidik serta menyediakan fasilitas bagi siswa-siswinya supaya menjadi ahli-ahli tertentu sesuai bakat alamiahnya. Dengan demikian kahlian mereka dapat dimanfaatkan untuk memajukan kesejahteraan umum, bukan malah sebaliknya. Mengenai biaya pendidikan, Gandhi mengusulkan supaya biayanya ditanggung bersama (oleh lembaga dan siswa-siswinya) secara adil dan merata.14 Pandangan Gandhi semacam itu tiada lain karena dilatarbelakangi oleh kekecewaannya terhadap lembaga pendididkan pemerintah kolonial saat itu yang dinilainya sebagai pemborosan dan melahirkan banyak pengangguran.
Seiring dengan itu, bagi Gandhi, pendidikan ketrampilan lebih diutamakan daripada pendidikan rasio murni sebab menurutnya, mempelajari kerajinan tangan yang dilakukan dengan dengan pendekatan ilmiah akan dapat meningkatkan akal budi. Dan justeru bila gelar kesarjanaan diukur berdasarkan keahlian tertentu –dan memandang dirinya sederajat dengan buruh biasa— maka angka pengangguran bergelar sarjana dapat dikurangi karena mereka bersedia kerja keras sebagaimana kaum buruh pada umumnya.
Sepintas Gandhi memang terlihat sangat membenci bahasa dan budaya asing, namun setelah dikaji secara mendalam tampaklah titik terangnya. Gandhi memang mengritik sarjana-sarjana yang dibiayai oleh pemerintah untuk mempelajari kesusastraan asing, sebab di mata Gandhi keberadaan mereka tidak membawa perubahan sosial apapun. Menurut Gandhi, pendidikan sastra tidak dapat meningkatkan nilai-nilai susila, pembinaan akhlak memang tidak ada sangkut-pautnya dengan sastra. Sebaliknya Gandhi lebih sepakat bila sarjana-sarjana yang mempelajari sastra asing itu kemudian menerjemahkannya dalam bahasa daerahnya masing-masing sehingga dapat mudah dipelajari oleh yang lainnya. Menurut hemat penulis, bukan hanya terhadap sastra melainkan semua pengetahuan yang tidak membawa manfaat bagi masyarakat umum, telah ditentang secara terang-terangan oleh Gandhi.
FILSAFAT PENDIDIKAN GANDHI
Filsafat pendidikan sebagaimana yang penulis pelajari selama satu semester penuh, terdiri dari aliran-aliran yang satu sama lain berangkat dari suatu kritik terhadap pendahulunya. Aliran-aliran tersebut antara lain; idealisme, realisme, esensialisme, pragmatisme, eksistensialisme, perenialism, analitis filosofis dan rekonstruksionisme. Masing-masing aliran sudah tentu memiliki ciri-khas serta basis filosofinya sendiri. Idealisme sebagai kelanjutan dari filsafat Plato meyakini bahwa pendidikan ialah sama artinya dengan mengembalikan memori lama tentang Idea (alam spiritual), mengutamakan rasionalitas. Disusul oleh esensialisme dan perenialisme, yang sama-sama mengakui keabadian jiwa sebagaimana Idealisme. Sementara Realisme meyakini sebaliknya, pendidikan harus mengutamakan pengalaman sebab realitas sejati merupakan materi yang ditangkap oleh manusia melalui sensasi dan abstraksi. Pragmatisme berpendapat bahwa realitas merupakan interaksi antara manusia dengan lingkungannya, dengan menggunakan sains itulah manusia mengembangkan dirinya. Berbeda lagi dengan esensialisme yang meyakini bahwa realitas bersifat subjektif dan pendidikan merupakan pilihan pribadi. Lebih lanjut Pragmatisme mengakui pula bahwa pnedidikan merupakan urusan pribadi-pribadi, pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan pribadi-pribadi. Berbeda lagi menurut Rekonstruksionisme bahwa pendidikan harus dapat membawa perubahan sosial, sains harus dimanfaatkan dalam ranah kepentingan umum bukan malah sebaliknya.15
Berdasarkan aliran-aliran itulah kita kembali melihat gagasan Gandhi. Di manakah letak gagasan-gagasan Gandhi dalam konteks filsafat pendidikan sebagaimana tersebut pada paragraf sebelumnya? Sekali lagi pertanyaan tersebut mudah dilontarkan, akan tetapi sulit sekali menebak-nebak jawabannya. Namun sebelum mengalir lebih jauh, penulis perlu mencatat basis filosofi dalam gagasan Gandhi, sebagai berikut:
A. Ontologi
Mengenai Gandhi, sejak awal kita telah mengenalnya bahwa ia merupakan seorang agamawan. Setidaknya dapat dikatakan bahwa gagasan-gagasan Gandhi tidak dapat dilepaskan dari pengaruh doktrin agama yang dianut olehnya, yakni Hindhu. Sebagaimana agama-agama pada umumnya, keyakinan terhadap adanya Tuhan menjadi doktrin wajibnya, meskipun tafsir masing-masing penganut terhadap Tuhannya selalu berbeda. Selain itu, agama Hindhu juga mengajarkan tentang keabadian jiwa. Jiwa, dalam kepercayaan Hindhu, mengalami reinkarnasi terus-menerus sampai dapat mengalami moksa (tercerahkan).
B. Epistemologi
Dalam konsepsinya mengenai pendidikan, Gandhi sangat mementingkan adanya keseimbangan antara akal dan hati. Selain aspek kognitif terdapat pula aspek psikomotorik yang tidak boleh dilupakan oleh pendidikan. Dengan demikian, Gandhi tidak hanya mementingkan rasionalitas sebagai sumber pengetahuan tetapi pengalaman (empiris) juga memiliki peran sangat penting. Bahkan di beberapa kasus, Gandhi lebih mengutamakan aspek empiris daripada rasionalitas. Memang, sebagaimana keyakinan kaum Pragmatisme, tanpa data empiris maka akal manusia tidaklah berarti apa-apa alias tidak berfungsi.
C. Aksiologi
Sekali lagi bagi Gandhi, pendidikan akal budi lebih penting daripada pendidikan intelektual. Artinya telah jelas bahwa nilai atau moralitas menjadi kunci dalam gagasan Gandhi. Bagi Gandhi, nilai-nilai bersifat luhur dan abadi dan sebab itulah nilai menjadi lebih penting daripada segalanya.
Berdasarkan rumusan singkat tersebut, kita menjadi semakin sulit untuk memasukkan pemikiran Gandhi ke dalam keranjang mana dalam filsafat pendidikan. Sepintas gagasan metafisika Gandhi mirip pandangan Esensialisme namun di sisi lain tampak sangat Rekonstruksionisme. Gandi pun sepakat bahwa pendidikan bertujuan agar siswa menguasai disiplin-disiplin dasar “subjek matter” dan diharapkan supaya siswa dapat menggunakan disiplin-disiplin tersebut untuk memecahkan masalah pribadi, sosial dan kemasyarakatan. Keterampilan-keterampilan, sikap-sikap, dan nilai-nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti (esensial) dari sebuah pendidikan. Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang tinggi, pengembangan intelektual atau kecerdasan sehingga dapat mempersiapkan siswa dalam bermasyarakat yang beradab. Namun selain itu, pendidikan juga harus membawa manfaat bagi masyarakat umum.
Memanusiakan manusia, bagi Gandhi, tidak cukup hanya dengan mengoptimalisasi daya nalarnya sebab tanpa akal budinya manusia menjadi bukan manusia. Pengetahuan diperoleh manusia melalui pencerapan terhadap sebuah pengalaman ataupun dengan sebuah realita dalam kehidupan. Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu, namun pendidikan yang baik juga harus dibarengai dengan sikap mental yang baik alias bermoral.
Menurut hemat penulis, apapun jenis aliran yang dapat kita lekatkan untuk gagasan Gandhi, semua tergantung keputusan masing-masing, tentu karena masing-masing hendak menonjolkan salah satu aspek dalam pemikiran Gandhi, dengan mengesampingkan aspek lainnya. Namun secara keseluruhan kita dapat memahami bahwa pemikiran Gandhi semacam itu tiada lain merupakan respon terhadap kondisi yang terjadi saat itu. Apapun bentuknya, semua tetap harus dipahami dalam konteks kesejarahannya masing-masing. []
DAFTAR PUSTAKA
Barnadib, Imam. 2002. Filsafat Pendidikan, Yogyakarta: Adi Cita Karya Nusa
Gandhi, Mahatma. 1968. Semua Manusia Bersaudara, terj. Kustiniyati Mochtar,Jakarta: Yayasan Obor dan PT Gramedia Pustaka Utama
Sadulloh, Uyoh. 2011. Pengantar Filsafat pendidikan. Bandung: CV Alfa Beta
Suhartono, Suparlan. 2006. Filsafat Pendidikan, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Suryadilaga, Alfatih. Peran Laki-laki dalam Pendidikan Keluarga, dalam http://suryadilaga.wordpress.com/2011/04/29/peran-laki-laki-dalam-pendidikan-keluarga/
Ensiklopedia Online, http://www.id.wikipedia.org/wiki/mahtma-gandhi
Awitara, Bersikap Seperti Gandhi, dalam http://www.kotakinformasi.wordpress.com/bersikap-seperti-gandhi
1Albert Einstein, seorang fisikawan besar abad 20 pernah mengataka, “Mungkin generasi berikutnya akan sulit percaya bahwa kalau ada orang seperti itu pernah hidup di dunia ini.” Dikutip berdasarkan catatan Awitara, Bersikap Seperti Gandhi, dalam http://www.kotakinformasi.wordpress.com/bersikap-seperti-gandhi
2Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu bernama Nathuram Godse yang marah karena kepercayaan Gandhi yang menginginkan rakyat Hindu dan Muslim diberikan hak yang sama. Gandhi kemudian dikremasi di Taman Pahlawan Rajghat, New Delhi. Abdurrahman Wahid, 2006. Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, Jakarta: The Wahid Institute, hlm. 346.
3Dikutip dari Ensiklopedia Online, http://www.id.wikipedia.org/wiki/mahtma-gandhi
4Dikutip dari Taufan Suqma, Roda Pintal dan Konsep Perjuangan Gandhi: Suatu telaah Filsafat Politik, dalam http://www.jurnalfilsafat.com
5Francis Alappatt, 2005. Mahatma Gandhi : Prinsip Hidup, Pemikiran Politik Dan Konsep Ekonomi, hlm. 19.
6Taufan Suqma, Roda dan Konsep Perjuangan, http://jurnlfilsafat.com, akses27 Desember 2011
7Awitara, Bersikap Seperti Gandhi, dalam http://www.kotakinformasi.wordpress.com/bersikap-sepeti-gandhi, akses 28 Desember 2011
9Mahatma Gandhi, 1968. Semua Manusia Bersaudara: Kehidupan dan Gagasan Mahatma Gandhi sebagaimana diceritakan Sendiri, terj. Kustiniyati Mochtar. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hlm. 176.
11 Alfatih Suryadilaga, Peran Laki-laki dalam Pendidikan Keluarga, ditulis 29 April 2011 dalam http://suryadilaga.wordpress.com/2011/04/29/peran-laki-laki-dalam-pendidikan-keluarga/ akses 5 Januari 2012.
Nglongok Kuthawera sekang Jogja
Kepriwe, Ana Apa?
Kawit gemien nyong ora ngangka-ngakaha arep dadi wong Kuthawera, maksude delairna neng Kutawera. Kaya kiye lah anane nasibe dadi wong Kuthawera. Maning-maning apa utawa kepriwe sing arep tek crita tentang Kuthawera? Sing jelas nyong ora arep crita macem-macem ora, dasare nyong ora due crita sing macem-macem tentang Kuthawera dadi nyong mung arep crita kahanan sosial-keagamaan neng kana. Maning-maning ya berdasarkan apa sing nyong ngerti, dadi intine anu ngumpruk yah? Ee,… ngumpruk soten!
Kiye langsung bae tek critakna apa yah? Tenane mengko angger rika utawa sapa, ana sing ora setuju karo critane inyong, ya gari komentar bae. Aja banjur desimpen neng njero ati kaya sing uwis-uwis, forum “Curugawu Comunity” kiye anu forum terbuka: sapa sing kepengin komen, ya gari diketik. Kongkonan karo tanggane kon ngetikna ya kena-kena bae. Nyong crita kue, di samping anu tamba nganggur, tujuane nggo mencairkan suasana sing –rumangsaku— kayonge wes “peteng dhedhet”. Suasana apa sing kayong “peteng dhedhet”, mbuh apa koh nyong be seprene esih urung paham bae…
Kiye nyong crita tapi ngampura, masalaeh data sing arep tek crita kue esih diragukan validitasnya. Tapi kayane angger mung sekedar nggo tamba nganggur thok tah ora masalah, dasare nyong-rika pada mbok wes pada biasa ngrasani tangga, nggosip, menghembuskan kabar burung utawa gawe propaganda. Dadi intine, masalah datane valid apa ora valid, ora patiya degagas.
Langsung bae lah!
Gemiyen –jane sih anu urung suwe-suwe banget— neng Kuthawera kue ana wong loro, pada-pada lanange, pada-pada tuane lan pada-pada wangkote. Dasare ya anu pada-pada alumni didikan jaman Landa karo jaman Jepun. Sing jelas wong loro kue pada-pada goli dadi tokoh neng Kuthawera, sing siji dadi tokoh Muhammadiyah terus sijine dadi tokoh NU. Sapa wong loro kue? Jenenge Eyang Supono karo Eyang Hasan Basri.
Rika sing wes tau mbojo kudune ngerti karo Mas Tohirin –angger ora salah, siki dadi mantune Pak Rikun apa yah?— eyange deweke kue sing jenenge Eyang Pono. Tantune umaeh Eyang Pono neng kana kae, kidul pertelon ojek. Kae neng kulon umaeh Pak Wahab –sing guru MTs Ma’arif NU 1 Ajb— toli ana pekarangan kosong mbok, nah gemiyen neng kono ana umah tabag madhep ngetan, sing manggoni Eyang Pono sekeluarga. Enyong dewek agi weruh Eyang Pono, wonge wes thikluk-thikluk nyekel teken, tapi esih katon bregas-sumringah.
Lha’ angger Eyang Basri sih sapa? Eyang Basri kue eyange enyong dewek, jere laire tahun 1905-an terus ninggale tauh 1995. Agi Eyang Basri ninggal nyong tembe kelas 3 neng MI Ma’arif 36 Pandansari, dadine ya kur emut-emut lali. Sing nyong esih kemutan, Eyang Basri angger udud nglinthing, linthingane cilik. Angger njagong neng kursi dawa, madhep ngetan karo nyanding meja gedhe. Jere gemiyen-gemiyene Eyang Basri kue suwe goli dadi santi kalonge Embah Mujeni (Karangcengis, Lesmana), mbareng pindah ngKuthawera sregep mulangi ngaji bocah-bocah. Bocaeh siki wes pada tua-tua, malah wes pada ndue putu. Putune ya wes pirang-pirang, termasuk salah sijine kue nyong dewek.
Kena diarani Eyang Basri angger karo Eyang Pono kue kaya musuh bebuyutan, basa kerene “musuh ideologi”. Genah kue mau, anu wong pada-pada wangkote sih dadi masalah qunut karo ora-qunut, kabiran karo bangid baeni thok bae dadi masalah ideologi. Malah jere biyungku, sing jenenge Eyang Pono kue wadeh banget karo kitab kuning sing jerene bidngah. Semono uga Eyang Pono, nganggep Eyang Basri kaya udu sedulur. Padahal sekabenahe wong Kuthawera (sing penduduk asline lho..) jan-jane anu tunggal sepodhol, anak turunane Eyang Nadikrama. Gampangane kue nyong karo luraeh (Aksan Singadiarjo) kue esih tunggal, mbuh tunggal canggah apa tunggal wareng.
Jaman semono neng Kuthawera, ideologi keagamaanne ora mung NU karo Muhammadiyah tok tapi ana maning Aboge. Keluargane Eyang Miraji, ana Eyang Tirtawi, ana Eyang sapa kae (lah kelalen jenenge…), kue penghayat aliran Aboge utawa aliran Cirebonan. Neng kono ya ana mesjide khusus, pendak malem-malem tertentu mesti ana pirang-pirang kegiatan, termasuk Terbangan nganti wengi. Nyong dadine ngerti ya anu pancen tangga perek sih yah, kur keletan wit Trerean nggo bates pekarangan, malah angger agi kober nyong be melu ngethoki Treteane koh. Sayange penghayat Aboge neng Kuthawera siki mung gari wong lima thok, yakue: Wa Rasmidi, Wa Tartib, Wa Dartoni, Wa Tarsiwan karo Wa Dirham. Ndilalah, lima-limane kue anake Eyang Miraji kabeh. Padahal gemiyen jane ora kalah ramene karo wong-wong NU-ne.
Kondisi NU-Muhammadiyah Sepeninggal Eyang Basri-Eyang Pono
NU-Muhammadiyah Kuthawera, sepeninggal Eyang Pono karo Eyang Basri siki, mengalami krisis ketokohan. Perang batin –lebih tepatnya perang ideologi— antar warga NU-Muhammadiyah masih terus berlanjut, meski tidak segencar dulu. Siki nyong wes weruh ana wong Muhammadiyah gelem diundang tahlilan, malah gelem slametan-kirim ndonga nganti pitung ndina. Tapi rika aja gimi ngarep-arep ana wong NU gelem Jemuahan utawa sholat Trawe neng mesjid Muhammadiyah, kejaba nyong dewek. Semono uga wong Muhammadiyah ya tetep bae ora gelem melu Jemuahan neng mesjide wong NU, mesjid Baiturrahmat 3 sing jere arep dibangun anyar.
Jane nyong angger ngemat-ematna malah koleng dewekan, secara sosial wong-wong NU karo wong-wong Muhammadiyah kue pada akur tapi seakur-akure tetep nyimpen wadi. Nyong dewek bae kayong serba-salah angger agi melu Jemuahan neng mesjide wong Muhammadiyah, malah ganu agi pisan-pisane melu Trawe neng kana, nyong dejaluki kon ngisi kultum. Untung bae ana alesan nggo mlayu… Situasi utawa kahanan sing kaya kue mau jelas udu kahanan sing sehat, malah bisa-bisa dadi penyakit masyarakat. Nyong dewek bae esih binging kepriwe carane mencairkan suasana, kon supayane wong NU angger agi crita Muhammadiyah ora perlu ngaggo krisikan, semono uga sewalike.
Mengenai tokoh-tokoh Muhammadiyah Kuthawera siki, nyong ora patiya paham, angger sekedar ngira-ira tah akeh bisane. Tapi sing jelas, Muhammadiyah neng Kuthawera agi ora ndue tokoh sing pantes disegani, apa maning angger disega-ndogi. Semono uga warga NU Kuthawera ya ora ndue tokoh sing pantes diperhitungkan. Jane nyong angger ndeleng mesjid Baiturrahmat 3, nganggo prihatin (perih-batin) semono uga angger agi ngimpleng mesjid Muhammadiyah. Sama-sama kondisinya memprihatinkan.
Terus terang, lewih prihatin maning angger ndeleng ada-adane wong-wong sing jare arep mindah terus nggedekna mesjid Baiturrahmat 3 kae mau. Sing jelas angger mesjide wes dadi, sapa sing arep ngrumat? Angger kur sekedar nyapu karo ngepel tah biyungku bae telas, ngrumat dalam artian ngrumati mesjide uga ngrumati masyarakate. Angger pancen langka sing ngrumat, nggo ngapa mesjid pada didandani karo diapik-apiki? Aja-aja mung arep nggo saingan karo mesjid Muhammadiyah. Cilaka!
Aboge-NU-Muhammadiyah Kuthawera; Sebuah Utopia
Hubungan sosial warga Kuthawera kena diarani wes ideal, sepihak memang pantas dinilai demikian. Namun ketika mengingat hubungan keagamaan yang sedang berlangsung di sana, enggan rasanya untuk sekedar komentar. Masalaeh kae mau, kondisine kayong “peteng dhedhet”, kaya-kaya arep udan gebret campur barat. Untung sih udu mangsa sanga dadi langka gludug jemeger-jeger pada ngampar.
Terus kudune kepriwe?
Menurut pantauane nyong sekang Jogja kene, ya kue mau, masyarakat Kuthawera baik NU-ne maupun Muhammadiyah-e, keduanya sama-sama sedang mengalami krisis tokoh. Bukan berarti sekarang tidak ada tokoh-tokoh di sana, hanya saja pamore mung kethip-kethip dadi bisane kur nggo madhangi dewek, artine ora cukup nggo madangi seambane Kuthawera. Dan seandainya muncul seorang tokoh saja, seperti Pak Wahab apa sapa misale, dengan catatan deweke ora sektarian. Mangsude tokoh sing bisa ngayomi Aboge-NU-Muhammadiyah sekaligus, tanpa pilah-pilih. Sukur pisan bisa menyelaraskan ketiga aliran keagamaan di sana, mesthi Kutawera dadi josh banget. Nyong ngomonge “menyelaraskan” lho…, udu menyatukan. Nyong paham 100 persen bahwa sing jenenge Aboge-NU-Muhammadiyah (secara ideologi) kue ora bisa disatukan, kejaba nganggo cara gawe aliran anyar. Ora kopong wong siki pada phobia karo sing jenenge aliran anyar, ya malah brabe maning.
Apa gelem kelakon sing jenenge Aboge-NU-Muhammadiyah diselaraskan? Kabeh mau bisa bae kelakon angger syarate ana sing gelem niat terus ngawiti. Masalah ngawiti kue sing ora gampang, masalahe gelem-gelem arep ketiban udan kritik karo caci-maki. Ning untunge angger sing ngawiti kue mau wonge kesebut tokoh, utawa wong sing uteke encer bae, ya madan mending sebab deweke wes paham apa sing kudu delakoni. Delakoni lho’… udu delakeni!
Cara sing kaya kue mau jane gampang-gampang angel, tapi lewih akeh angele…
Sementara cukup semene bae disit…



![Frozen lake [Explored] Frozen lake [Explored]](http://static.flickr.com/7154/6775468053_d50864e5be_t.jpg)


